Pernikahan adalah Teamwork: Diskusilah sebelum Nanjung Sambuk
- 11 Feb 2026 20:40 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar — Pernikahan tidak hanya dimaknai sebagai penyatuan dua insan dalam ikatan cinta, tetapi juga sebagai komitmen untuk membangun kerja sama jangka panjang. Hal itu dibahas dalam Program Rahajeng Bali pada Selasa, 10 Februari 2026, bersama Penyuluh Agama Hindu Kemenag Badung, Ni Putu Sukma Apti Utami, S.Pd.
Dalam dialog tersebut, isu mengenai pentingnya pembagian peran sebelum memasuki jenjang pernikahan menjadi sorotan utama. Pernikahan itu teamwork.
“Bukan soal siapa lebih hebat, siapa lebih banyak penghasilan, tapi bagaimana membagi peran dengan sadar dan sepakat,” tegasnya.
Menurutnya, banyak pasangan muda mempersiapkan pesta pernikahan dengan matang, tetapi lupa membicarakan pembagian tanggung jawab setelah prosesi pernikahan. Padahal, justru di situlah fondasi rumah tangga dibangun.
Ia mencontohkan hal paling mendasar, seperti pengelolaan ekonomi. Sebelum menikah, pasangan seharusnya sudah membicarakan siapa yang bekerja, bagaimana penghasilan dikelola, hingga siapa yang bertanggung jawab pada kebutuhan adat dan kegiatan keagamaan.
“Kalau tidak ada kesepakatan di awal, nanti bisa muncul kalimat seperti ‘aku lebih berjasa’ atau ‘uangku lebih banyak keluar’. Itu yang sering memicu konflik,” jelas Putu Sukma.
Tak hanya soal keuangan, pembagian peran di rumah juga perlu dibicarakan secara terbuka. Siapa yang mengurus rumah, siapa yang mendukung kegiatan sosial, dan bagaimana keduanya saling membantu saat salah satu mengalami kesulitan.
Dalam pandangannya, kesiapan menikah bukan sekadar mapan secara materi, tetapi juga matang secara psikologis. Artinya, mampu mengelola emosi dan menerima bahwa pasangan mungkin memiliki kelebihan atau kekurangan yang berbeda.
“Kalau suami emosi, istri bisa meredam. Kalau istri lelah, suami bisa menguatkan. Jangan api dilawan api,” tegas Putu Sukma.
Ia juga menyinggung bahwa meningkatnya angka perceraian beberapa tahun terakhir sering kali berawal dari ketidaksiapan menghadapi realitas rumah tangga. Ketika ekspektasi tak sejalan dengan kenyataan, kekecewaan mudah berubah menjadi pertengkaran.
Oleh karena itu, sebelum prosesi pernikahan dijalankan, pembicaraan serius tentang peran dan tanggung jawab menjadi penting. Bukan untuk membatasi kebebasan, melainkan untuk membangun kesepahaman. Sebab pada akhirnya, pernikahan bukan hanya tentang rasa, melainkan tentang komitmen untuk berjalan sebagai satu tim.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....