Nawa Warsa: Momentum Introspeksi dan Menabur Kebaikan
- 11 Feb 2026 11:41 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Siaran obrolan Galang Kangin di Pro 4 RRI Denpasar, edisi Rabu, 11 Februari 2026 mengajak masyarakat untuk memaknai pergantian waktu sebagai momentum refleksi diri, kewaspadaan, serta komitmen menata kehidupan yang lebih baik. Dalam perbincangan yang disampaikan secara santai namun sarat makna, Ajik Tibah dan Beli Kejoer menyoroti pentingnya kesadaran batin, etika perilaku, dan tanggung jawab pribadi dalam menghadapi perjalanan hidup ke depan.
Nawa Warsa dimaknai bukan sekadar penanda waktu baru, melainkan kesempatan untuk melakukan introspeksi, evaluasi diri, dan koreksi terhadap sikap serta tindakan yang telah dilalui. Manusia diajak untuk berhenti sejenak, menata ulang pikiran, dan memperbaiki langkah agar kehidupan berjalan lebih seimbang.
Salah satu pesan utama yang ditekankan adalah filosofi menabur kebaikan yang dianalogikan seperti benih yang ditaburkan di tanah subur. Jika dilakukan dengan tulus dan konsisten, kebaikan tersebut akan tumbuh, memberi manfaat, dan kembali kepada pelakunya.
Sebaliknya, tanpa usaha dan kesadaran untuk “menyuburkan” diri dengan nilai-nilai baik, hasil yang diharapkan tidak akan tercapai. Demikianlah kebaikan, jika dilakukan dengan tidak tulus dan tidak konsisten, maka dia akan tidak bermanfaat.
Dalam siaran tersebut juga disampaikan pentingnya keseimbangan kebutuhan hidup, baik lahir maupun batin. Pemenuhan kebutuhan pokok, pengendalian keinginan, serta kemampuan menempatkan diri di “titik tengah” menjadi kunci agar manusia tidak terjebak dalam sikap berlebihan yang justru menimbulkan masalah.
Selain itu, masyarakat diingatkan untuk selalu waspada dan berhati-hati, baik terhadap godaan internal seperti emosi, ego, dan pikiran negatif, maupun godaan eksternal yang datang dari lingkungan sekitar. Kewaspadaan dinilai sebagai bentuk pengendalian diri agar tidak menyakiti hati orang lain, baik melalui ucapan, sikap, maupun perbuatan.
Nilai karma turut ditekankan sebagai hukum sebab-akibat yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Setiap pikiran, perkataan, dan perbuatan diyakini akan membawa dampaknya masing-masing.
“Oleh karena itu, pengendalian pikiran (manah) menjadi fondasi penting sebelum melangkah pada tindakan nyata”, ungkap Tibah. Ia menegaskan Nawa Warsa merupakan awal baru untuk membangun diri dengan sikap rendah hati, belajar dari pengalaman, menghormati sesama, serta menumbuhkan niat baik dalam setiap aktivitas, sehingga kehidupan diharapkan dapat berjalan lebih harmonis, bermakna, dan penuh cahaya kebaikan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....