Rahasia Memproduksi Lontar Berkualitas

  • 10 Feb 2026 10:53 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar- Pemilik usaha Widya Aksara Ni Komang Ari Pebriyani membagikan teknik produksi media tulis lontar, yang menggunakan bahan alami dan metode tradisional, dalam pameran Bulan Bahasa Bali, di Gedung Kriya Taman Budaya Art Centre Denpasar Bali, Minggu,1 Februari 2026. Dikatakan proses panjang ini dimulai dari pemilihan daun pohon ental yang sudah tua, guna memastikan ketahanan media tulis terhadap serangan serangga dan jamur.

Bahan baku daun ental tersebut, harus melalui tahap perendaman di dalam air selama satu bulan penuh, untuk menghilangkan kandungan nira atau tuak. Air rendaman harus dipastikan sudah jernih, sebelum masuk ke tahap perebusan yang menggunakan biji jagung, sebagai indikator tingkat kematangan serat daun.

"Proses merebus selesai jika jagung yang dimasukkan sudah matang, kemudian daun didinginkan secara alami tanpa terkena sinar matahari langsung, agar tidak melengkung. Setelah kering, daun ental dijepit atau ditepes selama tiga minggu, agar bentuknya tetap lurus dan stabil saat digunakan untuk menulis," jelas Komang Ari.

Komang Ari mengungkapkan bahwa alat tulis berupa pisau pengrupak, memiliki spesifikasi kemiringan mata pisau yang berbeda, antara fungsi menggambar prasi dan menulis aksara. Suaminya secara khusus menempa pisau dari bahan baja dan tembaga, untuk memenuhi permintaan konsumen, yang menginginkan tingkat ketajaman berbeda-beda sesuai kenyamanan tangan.

Keunikan lain dalam pembuatan naskah ini, terletak pada penggunaan kemiri, yang dihancurkan lalu disangrai hingga mengeluarkan minyak alami, sebagai bahan penghitam tulisan. Goresan pengrupak pada permukaan lontar, akan diolesi minyak kemiri tersebut, kemudian dibersihkan dengan kapas, hingga menyisakan tulisan hitam yang sangat kontras.

Mengenai perawatan naskah kuno, Komang Ari menekankan pentingnya sirkulasi udara, agar koleksi lontar tidak lembap, dan tidak menjadi sarang bagi rayap perusak. Pembersihan debu pada naskah, sebaiknya dilakukan menggunakan kuas halus, lalu diolesi minyak sereh secara merata, untuk menjaga fleksibilitas daun agar tidak menjadi rapuh.

Komang Ari menegaskan koleksi naskah harus rutin dibuka dan dibaca, terutama saat hari raya Saraswati, sebagai momentum untuk memeriksa kondisi fisik serta membersihkan noda jamur. “Jika dirawat dengan benar menggunakan minyak sereh dan diangin-anginkan, naskah lontar dapat bertahan hingga ratusan tahun, sebagai warisan intelektual," tutup Komang Ari.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....