Simbol Beras dan Porosan dalam Agama Hindu

  • 17 Sep 2024 13:38 WIB
  •  Denpasar

KBRN, Denpasar : Beras dan porosan merupakan unsur wajib atau pokok yang harus ada dalam pembuatan banten upakara. Contohnya dalam pembuatan canang tangkih dan canang ceper. Namun, penggunaan beras dan porosan ini terkadang masih sering dilupakan. Padahal beras dan porosan mempunyai simbol penting dalam upakara yadnya umat Hindu di Bali.

Tokoh Masyarakat Hindu, Jero Gede Mekel Made Sukadha yang akrab dipanggil Jero Mekel dalam Siaran Obrolan Komunitas di Pro 4 RRI Denpasar belum lama ini mengatakan berdasarkan sumber sastra Hindu dijelaskan dalam membuatan sarana upakara yadnya, minimal canang ceper, canang tangkih dan canang sari wajib berisi beras. Beras adalah simbolis keberhasilan dan kebahagiaan seseorang di dalam melakukan yadnya atau di dalam melakukan kegiatan apapun. Sedangkan porosan berdasarkan sastra widi tattwa merupakan simbol Omkara. Simbol Omkara terdiri dari tiga hal yaitu Brahma, Wisnu dan Siwa. Dalam porosan, Siwa disimbolkan dengan kapur sirih, Wisnu disimbolkan dengan daun sirih, dan Brahma disimbolkan dengan buah.Dalam Dyatmika Tattwa juga disebutkan, porosan merupakan simbol tri semaya. Tri Semaya merupakan simbol Brahma, Wisnu dan Siwa. Inilah yang menyebabkan pentingnya penggunaan beras dan porosan dalam sebuah upakara.

“Tiang tanya ke pedagang dan konsumen , mengapa tidak berisi karena tidak ada yang memberi tahu, siapakah yang salah? Yang jelas pengetahuan kita yang salah. Itulah sumber-sumber yang menyebutkan betapa pentingnya porosan itu jika membuat banten atau tetandingan sebuah upakara, misalnya yang terkecil canang tangkih dan canang ceper”, lanjutnya.

Jero Mekel menambahkan dalam pembuatan canang ceper juga harus berisi tampak dara yang merupakan simbol swastika atau simbol umat Hindu dalam melakukan yadnya. Tampak dara ini diletakkan di atas ceper baru kemudian di atas tampak dara diisi sarana lain seperti beras, porosan dan bunga. Memang kelihatan kecil, tetapi manfaatnya besar sekali untuk kepentingan yadnya kita.

“Marilah kita bersama-sama utamanya pedagang, tolong diperhatikan hal-hal semacam ini, jangan sampai selaku penjual, tidak tahu dan pura-pura tidak tahu. Kita lestarikan yadnya kita agar mencapai kerahayuan dan kerahajengan sareng sami”, tutup Jero Mekel.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....