Perayaan Hari Raya Saraswati, Ada Beberapa Pantangan

  • 10 Jul 2024 20:20 WIB
  •  Denpasar

KBRN Denpasar : Hari Raya Saraswati bagi umat Hindu diperingati sebagai hari turunnya ilmu pengetahuan. Hari raya ini diperingati setiap 210 hari sekali, tepatnya pada Saniscara atau Sabtu Umanis Wuku Watugunung. Sesaat lagi, tepatnya 13 Juli 2024, umat Hindu akan merayakan Hari Raya Saraswati yang merupakan pawedalan Sang Hyang Aji Sawaswati, yaitu perayaan turunnya ilmu pengetahuan. Dilakukan upacara selamatan terhadap semua pustaka/rontal/kitab, sebagai penghormatan dan puji syukur kehadapan beliau yang telah menurunkan ilmu pengetahuan.

Pada hari ini, umat Hindu melakukan persembahyangan dan persembahan kepada Dewi Saraswati di pura, sekolah, dan rumah masing-masing. Selain itu, mereka juga menghaturkan banten Saraswati pada pustaka, lontar, kitab, dan buku. Pagi-pagi para siswa sekolah sudah sibuk mempersiapkan upacara sembahyang di sekolah masing-masing, sehabis itu biasanya para siswa melanjutkan sembahyang ke pura lainnya. Dan pura yang menjadi paforit adalah pura Jagatnatha yang ada di pusat kota. Puja astawa yang disiapkan pada Hari Raya saraswati antara lain Sesayut yoga sidhi beralas taledan dan alasnya daun sokasi berupa nasi putih daging guling, itik, raka-raka, sampian dan kernbang payasan. Sesayut ini dihaturkan di atas tempat tidur, dipersembahkan ke hadapan Ida Sang Hyang Aji Saraswati.

Menurut Ida Pandita Mpu Acharya Nanda dalam sebuah dharma wacanyanya di Kanal Youtube Budayanya Bali, Saraswati sejatinya adalah bratha, bukan perayaan. Seperti halnya Siwaratri atau Nyepi, Saraswati dilaksanakan dengan melakukan tapa beratha yoga semadhi.

Kata Saraswati secara etimologis berarti sesuatu yang mengalir atau makna dari ucapan. Ilmu pengetahuan itu sifatnya mengalir terus-menerus tiada henti-hentinya ibarat sumur yang airnya tiada pernah habis meskipun setiap hari ditimba untuk memberikan hidup pada umat manusia, dia tidak akan pernah habis. Dewi Saraswati digambarkan sebagai seorang wanita cantik bertangan empat yang masing-masing memegang: genitri, cakepan/lontar, wina/rebab, dan bunga padma/teratai yang mencerminkan sifat-sifat ilmu pengetahuan itu sendiri. Perempuan merupakan simbol dari kekuatan yang indah, menarik, lemah lembut, dan mulia. Sehingga ilmu pengetahuan itu selalu menarik untuk dipelajari. Posisi Saraswati adalah sebagai sakti brahma sebagai pencipta, artinya berkembang dan meluap. Penciptaan tanpa ilmu tidak akan mungkin, sehingga ilmu pengetahuan sangat berperan dalam penciptaan itu sendiri.

Dalam memuja Dewi Saraswati, kebiasaan umat Hindu menghindari beberapa pantangan yang telah dilakukan secara turun-temurun. Apabila dilanggar, niscaya hasilnya tidak mendapatkan kerta wara Nugraha Sanghyang Aji Saraswati. Beberapa pantangan tersebut antara lain, upakara pemujaan Saraswati sebaiknya dilakukan pada pagi hari atau sebelum tengah hari. Sebelum upacara Saraswati dan sebelum lewat tengah hari, tidak diperkenankan membaca dan atau menulis mantra dari kesusastraan. Bagi umat yang melaksanakan brata Saraswati secara penuh, tidak diperkenankan membaca dan menulis selama 24 jam dan dalam mempelajari segala ilmu pengetahuan "pangweruh" agar senantiasa dilandasi oleh hati yang jernih serta pikiran "astiti bakti" ke hadapan Hyang Saraswati. Termasuk juga merawat perpustakaan mulai segala jenis buku maupun lontar-lontar yang dimiliki. Hal tersebut tertuang dalam Lontar Sundarigama yang menjelaskan bahwa pada saat Hari Saraswati berlangsung, dikatakan tidak boleh belajar karena pada hari itu hanya digunakan untuk mengupacarai sumber pengetahuan seperti buku atau lontar.

Genitri merupakan simbol dari kekekalan atau keabadian. Artinya ilmu pengetahuan itu kekal dan tidak terbatas. Pustaka Suci atau Lontar merupakan simbol dari ilmu pengetahuan suci. Pada hakikatnya, ilmu pengetahuan itu baik untuk dipelajari. Setelah ilmu pengetahuan didapat, maka penggunaannya perlu disesuaikan secara tepat dan berguna. Sehingga dapat menghasilkan manfaat yang berguna bagi kehidupan banyak orang.

Teratai merupakan simbol kesucian dari Ida Sanghyang Widhi Wasa. Bunga teratai memiliki keunikan tersendiri. Tanaman ini bisa hidup di tiga alam. Yaitu alam lumpur, air, dan udara. Walaupun hidup di alam air, bunga teratai tidak bisa basah. Sehingga dipakai sebagai simbol kesucian serta bebas dari keterikatan. Dalam hal ini Ida Sanghyang Widhi Wasa, walaupun menciptakan alam beserta isinya, Beliau tidak terikat oleh ciptaan-Nya sendiri.

Alat musik merupakan simbol budaya yang tinggi. Kesenian merupakan alat penghibur di saat pikiran sedang kacau atau kegelapan. Dalam hal ini, ilmu pengetahuan dilambangkan sebagai alat musik yang bisa menghibur di kala kegelapan. Ilmu pengetahuan juga menjadi simbol keindahan yang dapat dinikmati sepanjang hidup.

Angsa merupakan simbol dari kebijaksanaan. Angsa juga hidup di tiga alam. Yakni air, darat, dan udara sebagai lambang kuasa Ida Sanghyang Widi Wasa. Ketika mencari makan, angsa dapat memisahkan antara makanan dan lumpur. Dengan demikian angsa merupakan dari adanya sifat wiweka (Kebijaksanaan) tinggi yang dapat membedakan antara baik dan buruk, benar dan salah.

Makna pemujaan Dewi Saraswati adalah memuja dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan memfokuskan pada aspek Dewi Saraswati (simbol vidya) atas karunia ilmu pengetahuan yang di karuniakan kepada kita semua, sehingga akan terbebas dan avidyam (kebodohan), agar dibimbing menuju ke kedamaian yang abadi dan pencerahan sempurna.

Sehari setelah Hari Raya Saraswati, disebut hari Banyu Pinaruh. Saat perayaan Banyu Pinaruh, umat Hindu di Bali akan datang ke sumber air atau pantai untuk melaksanakan ritual pembersihan diri pada pagi hari sebelum mengawali kegiatan. Banyu Pinaruh dimaknai sebagai hari dimana kita memohon sumber air pengetahuan. Dan secara filosofi bermakna membersihkan atau menyucikan diri dengan air ilmu pengetahuan, karena memang pikiran yang kotor atau kegelapan hanya bisa dibersihkan dengan pengetahuan suci. (I Putu Adi Sutirta)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....