Liburan Kok Malah Capek? Ini Penyebab Travel Fatigue
- 04 Okt 2026 12:01 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Liburan yang seharusnya menjadi momen untuk beristirahat dan melepas penat justru bisa membuat tubuh terasa semakin lelah. Perjalanan panjang, kurang tidur, perubahan jadwal, hingga aktivitas yang terlalu padat dapat memicu kondisi yang dikenal sebagai travel fatigue.
Dikutip dari Sleep Foundation, perjalanan dapat menyebabkan kelelahan akibat berbagai tuntutan fisik dan mental selama bepergian. Kondisi tersebut dapat muncul ketika seseorang menempuh perjalanan panjang, menghadapi stres karena mengejar jadwal, sulit tidur di kendaraan, terlalu lama duduk, hingga mengalami perubahan pola makan dan minum.
Pada perjalanan menggunakan pesawat, kondisi kabin juga dapat menambah rasa tidak nyaman. Udara yang relatif kering serta tekanan udara yang lebih rendah dapat membuat tubuh terasa lebih cepat lelah selama perjalanan.
Travel fatigue kerap disamakan dengan jet lag, padahal keduanya memiliki penyebab yang berbeda. Travel fatigue lebih berkaitan dengan beban fisik dan mental selama perjalanan, sedangkan jet lag terjadi karena tubuh harus menyesuaikan ritme sirkadian dengan perubahan zona waktu.
Cleveland Clinic menjelaskan, jet lag terjadi ketika ritme sirkadian tubuh belum selaras dengan siklus siang dan malam di tempat tujuan. Kondisi ini dapat menimbulkan sejumlah gejala, seperti sulit tidur, mengantuk pada siang hari, sakit kepala, sulit berkonsentrasi, dan kelelahan.
Karena itu, seseorang tetap dapat merasa lelah meski sudah tiba di destinasi wisata. Terlebih jika perjalanan melibatkan perpindahan zona waktu dan aktivitas dilakukan sejak pagi hingga malam.
Selain perjalanan itu sendiri, pola tidur selama liburan juga dapat menjadi penyebab kelelahan. Keinginan mengunjungi banyak tempat dalam waktu singkat sering membuat wisatawan menyusun itinerary yang terlalu padat.
Menurut Sleep Foundation, perubahan jadwal tidur, lingkungan yang berbeda, serta aktivitas yang berlebihan dapat mengganggu kualitas tidur selama perjalanan. Wisatawan juga dapat mengalami first-night effect, yakni kecenderungan tidur lebih buruk ketika pertama kali tidur di lingkungan yang asing.
Jika perjalanan melintasi beberapa zona waktu, tubuh membutuhkan waktu untuk menyesuaikan jam biologis dengan waktu setempat. Kondisi tersebut dapat membuat rasa lelah bertahan meski perjalanan sudah selesai.
Meski perjalanan dapat melelahkan, bukan berarti liburan tidak memberikan manfaat bagi tubuh dan pikiran. Sebuah meta-analisis yang diterbitkan dalam Journal of Applied Psychology pada 2025 menganalisis 32 studi dengan 256 effect sizes terkait hubungan liburan dan well-being pekerja.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa liburan berkaitan dengan peningkatan well-being. Studi tersebut juga menemukan bahwa psychological detachment, yaitu kemampuan untuk benar-benar melepaskan diri dari urusan pekerjaan, serta aktivitas fisik selama liburan berpotensi mendukung proses pemulihan.
Dengan demikian, rasa lelah setelah liburan tidak selalu berarti waktu berlibur terbuang percuma. Tubuh bisa saja membutuhkan waktu untuk memulihkan diri setelah menghadapi perjalanan, perubahan jadwal, dan berbagai aktivitas selama berada di tempat tujuan.
Karena itu, wisatawan tidak harus memenuhi setiap hari dengan agenda yang padat. Memberikan ruang untuk tidur cukup, bersantai, dan melepaskan diri dari pekerjaan dapat membuat liburan lebih seimbang dan membantu tubuh mendapatkan manfaat pemulihan secara optimal.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....