Mengapa Makanan Pedas Bikin Nagih meski Mulut Terasa Terbakar?

  • 04 Okt 2026 12:02 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Makanan pedas kerap membuat mulut terasa panas, bahkan memicu keringat, hidung berair, dan rasa tidak nyaman. Namun, bagi sebagian orang, sensasi tersebut justru membuat mereka ingin kembali menyantap makanan pedas.

Fenomena itu berkaitan dengan capsaicin, senyawa alami yang terdapat pada cabai. Senyawa tersebut memicu sensasi panas atau terbakar ketika bersentuhan dengan jaringan di mulut.

Menurut Cleveland Clinic, capsaicin mengaktifkan reseptor TRPV1 pada saraf sensorik. Reseptor tersebut berperan dalam mendeteksi panas dan rangsangan yang berpotensi menimbulkan rasa sakit.

Karena itu, sensasi pedas sebenarnya bukan termasuk rasa dasar seperti manis, asin, asam, pahit, dan umami. Pedas lebih tepat disebut sebagai sensasi panas atau nyeri yang muncul akibat respons saraf terhadap capsaicin.

Meski awalnya menimbulkan rasa tidak nyaman, tubuh dapat memberikan respons terhadap rangsangan tersebut. Cleveland Clinic menjelaskan bahwa tubuh dapat melepaskan endorfin, senyawa yang berperan dalam mengurangi rasa sakit dan meningkatkan perasaan nyaman.

Respons tersebut diduga menjadi salah satu alasan sebagian orang justru menikmati sensasi setelah mengonsumsi makanan pedas. Rasa panas yang muncul kemudian dapat diikuti perasaan lega atau nyaman sehingga seseorang terdorong untuk kembali menyantap makanan pedas.

Namun, respons setiap orang tidak selalu sama. Tingkat kesukaan terhadap makanan pedas juga dapat dipengaruhi oleh pengalaman, lingkungan, budaya, serta kebiasaan mengonsumsi makanan pedas.

Kebiasaan mengonsumsi makanan pedas juga dapat memengaruhi respons seseorang terhadap capsaicin. Penelitian yang tercatat di PubMed, basis data penelitian kesehatan yang dikelola National Library of Medicine Amerika Serikat, menunjukkan bahwa paparan capsaicin secara berulang dapat menurunkan intensitas sensasi terbakar yang dirasakan.

Dalam salah satu penelitian pada manusia, paparan capsaicin dengan dosis rendah secara berulang selama beberapa hari membuat peserta melaporkan sensasi terbakar yang lebih rendah.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa toleransi terhadap sensasi pedas dapat meningkat seiring paparan berulang. Kondisi ini membuat makanan yang sebelumnya terasa sangat pedas lama-kelamaan dapat terasa lebih biasa.

Meski sering disebut nagih, keinginan untuk kembali mengonsumsi makanan pedas tidak serta-merta berarti seseorang mengalami kecanduan secara medis.

Keinginan tersebut dapat berkaitan dengan kombinasi respons tubuh terhadap capsaicin, pengalaman makan yang menyenangkan, preferensi pribadi, serta kebiasaan mengonsumsi makanan pedas.

Dengan demikian, semakin sering seseorang mengonsumsi makanan pedas, tubuhnya dapat menjadi lebih terbiasa terhadap sensasi tersebut. Pada saat yang sama, pengalaman positif ketika menyantap makanan pedas dapat membuat seseorang semakin menyukainya.

Meski demikian, konsumsi makanan pedas tetap perlu disesuaikan dengan kemampuan tubuh. Jika makanan pedas menimbulkan ketidaknyamanan yang berlebihan, konsumsinya sebaiknya tidak dipaksakan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....