Pengabdian Menwa Ugrasena 1964-2014: Dari Monumen hingga Membina Masyarakat
- 11 Sep 2026 13:25 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Dikutip dari buku Gelora Monumen Perjuangan Bangsal edisi Perdana yang berjudul “Suara Sejarah, Merawat Negeri dengan Integritas dan Kejujuran”, di kawasannya berdiri kokoh sebuah tonggak sejarah berupa Monumen Resimen Mahasiwa Ugrasena.
Batu dan prasasti itu menyimpan banyak cerita. Cerita tentang disiplin, pengorbanan, dan pengabdian selama lebih dari setengah abad kepada Nusa dan Bangsa 1964-2014.
Monumen ini merupakan usulan dan keputusan peserta Rakerda Korps Menwa Indonesia Provinsi Bali di Makorem 163 Wirasatya.
Peletakan batu pertama dan pedaging dilakukan oleh Ketua BPO Korps Menwa Indonesia Provinsi Bali Sukawan Andika, Sekjen Korps Menwa Indonesia Bali Made Dharma Putra dan Ketua Korps Menwa Kabupaten Gianyar IGN Dharmawangsa , disaksikan pengurus Korps Menwa Provinsi Bali.
Gambar bangunan adalah ide dari Prof. I Wayan Windia, Guru Besar Iniversitas Udayana dan Dr. Bagus Ngurah Putu Arhana, Sp.A (K), mantan Head of Department of Child dan mantan Ketua IDAI Bali. Monumen tersebut diresmikan langsung oleh rektor UNUD, Prof.Dr.dr Ketut Suastika, Sp.PD-KEMD pada 16 Agustus 2015.
Simbol Pengabdian Setengah Abad
Mantan Kasmenwa Ugrasena 1981 – 1989 Bagus Ngurah Rai mengatakan bagi Menwa Ugrasena, monumen itu lebih dari sekadar penanda, ia adalah pengingat. “Disinilah kita ditempa. Dari kampus turun ke masyarakat. Dari latihan turun ke medan tugas,” ujar nya.
Kini di usia 69 tahun, Bagus masih aktif mengabdi. Ia kini menjabat sebagai Ketua DHD Angkatan 45 provinsi Bali, menggantikan Alm. Prof Windia Guru Besar Universitas Udayana.
Bagi beliau, semangat yang sama harus terus dijaga. “Menwa itu lahir untuk menjaga NKRI. Dulu jaga kampus, sekarang jaga nilai-nilai kebangsaan. Tidak ada kata pensiun dalam pengabdian,”pesannya.
Cerita Seroja: Membina Masyarakat Timor Timur
Salah satu bab paling berat dalam sejarah Menwa Ugrasena adalah keterlibatan dalam Operasi Seroja di Timor Timur. Invasi Indonesia ke Timor Leste dimulai 7 Desember 1975. Operasi ini dikenal dengan nama Operasi Seroja. Pendudukan berlangsung selama seperempat abad.
Menurut data CAVR, diperkirakan 102.000 kematian terkait konflik terjadi selama 1974-1999. Di tengah situasi itu, Menwa Ugrasena ikut ambil bagian. Bukan digaris depan tempur, tapi dalam program P2WKSS : Pembinaan dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Tugasnya adalah menata kehidupan masyarakat, membantu pendidikan, kesehatan dan ketertiban.
Ketua IKA Menwa Seroja Timor Timur Wilayah Bali, mantan Asisten Keputrian Kasmenwa Ugrasena, Dra. Desak Kusumawati Sumantra, mengingat banyak kisah duka di sana. “Banyak air mata. Tapi kami juga melihat senyum anak-anak saat sekolah bisa jalan lagi. Itu yang membuat kami kuat,”ujarnya.
Pengabdian yang diceritakan Kusumawati itu dibenarkan oleh Ida Ayu Sri Bhakti dan Made Kariasih, rekan seperjuangan di Timor-Timur. Kini, Dra. Desak, istri dari Brigjen TNI Purn. Made Sumantra, mantan Kasdam IX Udayana, juga aktif sebagai Ketua PERIP Bali. Ia menitipkan harapan besar kepada generasi baru Indonesia.
“Jangan pernah melupakan sejarah. Adik-adik sekarang harus punya semangat yang sama. Cinta tanah air, disiplin, dan mau mengabdi. NKRI ini mahal harganya. Jaga bersama-sama,”harapnya.
Pesan dari Para Tokoh untuk Generasi Baru
Para penggerak Monumen menggaungkan semangat untuk menjag NKRI. Sekjen Korps Menwa Indonesia Bali yang kini menjabat Ketua Gerakan Nasional Pembudayaan Pancasila GNPP Bali, Made Dharma Putra, menegaskan untuk menjaga NKRI. "Pancasila adalah harga mati. Dari monumen ini kita belajar bahwa pengabdian tidak mengenal ruang dan waktu,"ujarnya.
Senada dengan beliau, Ketua DHC Angkatan 45 Gianyar sekaligus Ketua Korps Menwa Kabupaten Gianyar IGN Dharmawangsa saat peletakan batu pertama, berpesan agar tetap menjaga semangat. "Terus kobarkan jiwa 45. Monumen ini harus jadi sumber inspirasi agar generasi muda tidak lupa sejarah,"ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....