Aksi Heroik H. Mutahar sebagai Penyelamatan Bendera Pusaka

  • 10 Agt 2026 15:11 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Sejarah kemerdekaan Indonesia menyimpan lembaran saksi bisu perjuangan yang penuh dengan pertaruhan nyawa. Dilansir dari berbagai sumber, salah satunya adalah kisah penyelamatan Bendera Pusaka oleh Husein Mutahar (H. Mutahar). Peristiwa dramatis ini meletus pada 19 Desember 1948, bertepatan dengan dilancarkannya Agresi Militer II oleh pasukan tentara Belanda di Yogyakarta. Di kala Istana Kepresidenan Gedung Agung terkepung rapat dan dihujani bom dari udara, Presiden Soekarno memanggil ajudan kepercayaannya tersebut untuk mengemban sebuah misi rahasia yang teramat genting.

Dalam pertemuan darurat di tengah situasi yang mencekam tersebut, Bung Karno menyerahkan sebuah mandat khusus yang menentukan hidup dan mati simbol kedaulatan negara. Presiden memercayakan keselamatan Bendera Pusaka yang dijahit oleh Ibu Fatmawati kepada H. Mutahar menggunakan taruhan nyawanya sendiri . Dengan perintah tegas, Soekarno menekankan bahwa bendera tersebut sama sekali tidak boleh jatuh ke tangan musuh. Namun, jika situasi semakin mendesak, pusaka tersebut hanya boleh dikembalikan langsung kepada Bung Karno atau pengganti resminya.

Sadar akan besarnya tanggung jawab dan tingginya risiko tertangkap oleh musuh, H. Mutahar segera memutar otak bersama seorang rekan bernama Ibu Pernadinata untuk menyusun taktik penyamaran. Dengan sangat hati-hati, mereka melepas benang jahitan asli yang menyatukan bagian warna merah dan putih pada bendera tersebut agar terpisah menjadi dua helai kain mandiri. Kedua kain yang sudah terpisah itu kemudian diselipkan ke dalam dua tas yang berbeda di antara tumpukan pakaian pribadinya, sebuah logika penyamaran cerdik demi mengecoh intelijen Belanda yang tidak akan mengenali kain tersebut sebagai bendera negara.

Dugaan Mutahar terbukti benar ketika tidak lama setelah skenario penyelamatan itu rampung, ia diringkus dan ditahan oleh tentara kolonial Belanda. Namun, berkat ketahanan mental dan kecerdikannya, ia berhasil meloloskan diri dari kamp tahanan musuh dan melakukan perjalanan gerilya hingga berhasil menumpang kapal laut menuju Jakarta. Di tengah masa persembunyiannya di ibu kota, Mutahar meminjam sebuah mesin jahit demi menyatukan kembali kain merah dan putih tersebut tepat pada bekas lubang jahitan aslinya.

Setelah bendera pusaka kembali utuh dan tampak sempurna, kain sakral itu akhirnya berhasil diserahkan dengan selamat kepada utusan resmi Soekarno untuk dibawa ke tempat pengasingan presiden di Pulau Bangka. Keberhasilan misi dan penyelamatan yang luar biasa ini menjadi penanda bahwa simbol kedaulatan Indonesia tetap tegak berdiri meski diguncang agresi militer. Atas jasa heroiknya yang tanpa pamrih dalam mempertahankan marwah bangsa, pemerintah Indonesia secara resmi menganugerahkan penghargaan tertinggi Bintang Mahaputera kepada H. Mutahar pada tahun 1961.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....