Sejarah Paskibraka: Warisan Agung H. Mutahar untuk Persatuan Bangsa
- 10 Agt 2026 15:10 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) yang kerap menjadi sorotan utama dalam upacara Kemerdekaan Republik Indonesia memiliki akar sejarah yang sangat mendalam. Dilansir dari berbagai sumber, kehadiran pasukan ini tidak lepas dari peran krusial Husein Mutahar (H. Mutahar) atas perintah langsung Presiden Soekarno pada tahun 1946. Kala itu, ibu kota negara terpaksa dipindahkan ke Yogyakarta karena situasi keamanan Jakarta yang genting akibat ancaman militer Belanda sehingga Bung Karno menugaskan Mutahar selaku ajudan kepresidenan untuk menyusun skenario upacara HUT RI pertama di halaman Istana Gedung Agung.
Pada awal perancangan konsep, H. Mutahar memiliki gagasan visioner bahwa bendera pusaka harus dikibarkan oleh para pemuda-pemudi dari seluruh pelosok Nusantara sebagai simbol nyata persatuan bangsa. Namun, blokade militer Belanda yang ketat memutus akses transportasi antarwilayah dan menggagalkan rencana penjemputan perwakilan dari tiap provinsi. Sebagai solusi darurat yang cerdas, Mutahar menunjuk 5 orang pemuda yang terdiri dari 3 putra dan 2 putri asal daerah berbeda yang kebetulan sedang berada di Yogyakarta, di mana jumlah tersebut dipilih secara filosofis untuk melambangkan lima sila Pancasila.
Gagasan awal yang sederhana tersebut kemudian mengalami metamorfosis besar pada tahun 1967 ketika H. Mutahar kembali dipanggil oleh Presiden Soeharto. Setelah sempat vakum pasca-kembalinya ibu kota ke Jakarta, ia ditugaskan untuk membenahi dan menyempurnakan kembali sistem pengibaran bendera pusaka di tingkat nasional. Pada momen historis inilah, Mutahar melahirkan konsep revolusioner berupa Formasi Pasukan 17-8-45 yang strukturnya masih dipertahankan secara baku dan diaplikasikan dalam upacara kenegaraan hingga hari ini.
Formasi ini dibagi menjadi tiga kelompok utama dengan peran yang sangat spesifik dan matematis untuk menyimbolkan tanggal kemerdekaan Indonesia. Kelompok terdepan adalah Pasukan 17 yang bertindak sebagai pengiring atau pemandu upacara, diikuti oleh Pasukan 8 di posisi inti yang memikul tanggung jawab besar untuk membawa serta mengibarkan bendera pusaka. Sementara itu, posisi paling belakang ditempati oleh Pasukan 45 yang beranggotakan unsur militer atau kepolisian bersenjata yang bertugas sebagai pengawal jalannya prosesi sakral tersebut.
Sistem ini semakin matang ketika H. Mutahar menjabat sebagai Direktur Jenderal Urusan Pemuda dan Pramuka. Ia merancang standardisasi rekrutmen nasional dengan mewajibkan penjemputan sepasang pelajar SMA terbaik dari setiap provinsi. Transformasi ini mencapai puncaknya pada tahun 1973 ketika kelompok elit pengibar bendera ini resmi diberi nama Paskibraka. Akronim ini diusulkan oleh murid binaannya, Idik Sulaeman. Melalui rekam jejak panjang ini, Paskibraka bukan sekadar barisan pengibar bendera melainkan representasi hidup dari semangat persatuan yang dirintis lewat pemikiran besar seorang H. Mutahar.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....