Gema Revolusi Dibalik Nada Penciptaan Lagu Hari Merdeka

  • 06 Agt 2026 10:35 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Dilansir dari berbagai sumber, lagu wajib nasional Hari Merdeka yang selalu membakar semangat nasionalisme setiap bulan Agustus memiliki latar belakang penciptaan yang sarat akan nilai perjuangan fisik. Karya monumental ini lahir di Yogyakarta pada tahun 1946, tepat satu tahun setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Di tengah situasi politik dan militer yang genting akibat ancaman kembalinya tentara kolonial Belanda, lagu ini diciptakan bukan sekadar sebagai hiburan, melainkan sebagai sebuah senjata kultural untuk menegaskan kedaulatan bangsa yang baru seumur jagung.

Proses kreatif penciptaan lagu ini bermula dari instruksi langsung Presiden Soekarno saat ibu kota negara dipindahkan sementara ke Yogyakarta demi alasan keamanan. Bung Karno memanggil ajudan kepercayaannya, Husein Mutahar (H. Mutahar) dan memintanya untuk menggubah sebuah aubade atau alunan musik penghormatan pagi hari. Komposisi musik tersebut direncanakan sebagai bagian inti dari rangkaian upacara resmi peringatan hari ulang tahun pertama kemerdekaan Republik Indonesia yang akan digelar di halaman Istana Gedung Agung Yogyakarta.

Mengemban tugas besar dari kepala negara, H. Mutahar menyusun notasi demi notasi lagu ini di bawah bayang-bayang atmosfer darurat perang. Keterbatasan fasilitas di masa revolusi tidak menyurutkan langkahnya. Ia sampai harus meminjam berbagai alat musik milik korps orkes Keraton Yogyakarta untuk merangkai serta menguji keselarasan nadanya. Setelah komposisi tersebut rampung sepenuhnya, Mutahar sendiri yang turun tangan memimpin barisan pemusik sebagai konduktor guna mengumandangkan lagu baru itu secara perdana di hadapan Presiden Soekarno.

Secara musikalitas, lagu Hari Merdeka sengaja digubah dengan tempo cepat dan menggebu-gebu (con brio) guna membakar semangat perlawanan rakyat beserta tentara di garis depan. Melalui ketukan yang dinamis, lagu ini bertindak sebagai stimulan psikologis untuk memompa keberanian pahlawan dalam mempertahankan kemerdekaan dari Agresi Militer Belanda. Lebih dari itu, penggalan lirik ikonis seperti kita tetap setia, tetap sedia mempertahankan Indonesia merupakan pengejawantahan dari sumpah suci seluruh elemen bangsa untuk menolak tunduk kembali kepada penjajah.

Sosok di balik mahakarya ini yaitu H. Mutahar dikenal memiliki rekam jejak historis yang luar biasa bagi republik. Selain mahir melahirkan lagu-lagu legendaris lainnya seperti Syukur dan Hymne Pramuka, tokoh multitalenta ini juga merupakan pahlawan yang menyelamatkan Bendera Pusaka. Selain itu ia juga merupakan pelopor berdirinya pasukan Paskibraka nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....