Menelusuri Buah Badung, Tanaman Lokal yang Terlupakan di Tanah Sendiri
- 06 Agt 2026 11:28 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Banyak orang mengenal kata "Badung" sebagai nama sebuah kabupaten yang sangat populer dengan sektor pariwisatanya di Bali. Namun, belum banyak generasi muda yang tahu bahwa nama wilayah tersebut diambil dari nama sebuah tanaman buah lokal asli Indonesia, yaitu Buah Badung (atau di daerah luar Bali lebih dikenal dengan nama Mundu).
Ironisnya, pohon buah yang menjadi maskot dan asal-usul filosofis nama daerah ini sekarang statusnya kian langka. Di habitat aslinya, pohon badung kini sudah sangat jarang dijumpai menghiasi pekarangan rumah warga lokal.
Dikutip dari tumbuhanbali.blogspot.com, secara ilmiah buah badung tergolong dalam keluarga Clusiaceae (kerabat dekat buah manggis). Pohonnya berukuran sedang hingga besar dengan tajuk yang rimbun dan daun hijau tua yang lebat, menjadikannya sangat ideal sebagai pohon peneduh.
Buah badung memiliki ciri khas yang sangat memanjakan mata:
Warna: Saat muda berwarna hijau, dan akan berubah menjadi kuning cerah hingga oranye mengilat ketika matang sempurna.
Rasa: Memiliki perpaduan rasa manis dan asam yang kuat (segar). Daging buahnya bertekstur lembut dan mengandung banyak sari buah.
Bagi masyarakat lokal zaman dahulu, pohon badung melambangkan keteduhan dan kemakmuran, sebuah filosofi yang mendasari penamaan wilayah pusat pemerintahan dan pemukiman di masa lalu.
Bukan sekadar tanaman peneduh, buah badung memiliki spektrum manfaat yang sangat luas, mulai dari konsumsi hingga pengobatan tradisional:
Kaya Vitamin C dan Antioksidan: Rasa asamnya yang kuat menandakan kandungan vitamin C yang tinggi, sangat baik untuk menjaga imunitas tubuh dan kesehatan kulit.
Herbal Alami: Dalam pengobatan tradisional Bali (Usadha), beberapa bagian tanaman badung sering digunakan sebagai ramuan. Buahnya berkhasiat mengobati sariawan dan memperlancar pencernaan. Sementara itu, rebusan daun dan kulit batangnya kerap digunakan untuk membantu membersihkan darah kotor atau meredakan bengkak.
Pewarna Alami : Getah dari kulit buahnya yang berwarna kuning pekat dahulu sering diekstrak oleh para perajin tekstil tradisional sebagai zat pewarna alami kain.
Penyebab utama menyusutnya populasi pohon badung adalah derasnya laju pembangunan infrastruktur dan alih fungsi lahan pekarangan menjadi pemukiman atau akomodasi wisata. Selain itu, pohon badung memiliki masa pertumbuhan yang relatif lama dari biji hingga bisa berbuah, sehingga masyarakat lebih memilih menanam tanaman hias atau buah komersial modern yang lebih cepat menghasilkan secara ekonomi.
Saat ini, buah badung tidak lagi bisa ditemukan di pasar-pasar tradisional. Keberadaannya hanya terbatas di beberapa kawasan pelestarian, kebun raya, atau pura-pura tua yang pohonnya dirawat sebagai bagian dari vegetasi suci.
Melihat kondisi ini, gerakan untuk melestarikan buah badung mulai disuarakan oleh para pencinta lingkungan dan budayawan. Beberapa aksi penghijauan di Bali kini mulai mewajibkan penanaman pohon badung di area fasilitas publik, sekolah, dan taman kota.
Menyelamatkan buah badung bukan sekadar urusan menjaga ketahanan pangan lokal atau biodiversitas, melainkan sebuah upaya penting untuk merawat sejarah, budaya, dan identitas daerah agar anak cucu di masa depan tidak hanya mengenal nama "Badung" sebagai sebuah wilayah administratif, melainkan juga sebagai pohon ikonik yang sarat akan nilai filosofis.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....