Anak Bahagia Berawal dari Lingkungan yang Peduli
- 03 Agt 2026 09:29 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Mempersiapkan masa depan bangsa menuju Indonesia Emas tidak hanya soal pembangunan fisik dan ekonomi, melainkan bagaimana kita merawat dan melindungi generasi penerus sejak dini.
Anak-anak, khususnya Generasi Alpha dan Beta, tumbuh di era yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Tantangan pengasuhan di masa kini tidak lagi sederhana, melainkan dihadapkan pada derasnya arus teknologi hingga dinamika sosial yang kompleks.
Komisioner KPAD Provinsi Bali dalam acara Rahajeng Bali pada Jumat, 31 Juli 2026, Lilik Ismurtono Santoso mengungkapkan bahwa anak-anak merupakan kelompok rentan yang membutuhkan perlindungan ekstra, baik secara fisik maupun mental. Ancaman terhadap anak saat ini tidak lagi sekadar berasal dari "orang luar", tetapi juga bisa muncul dari lingkungan terdekat hingga dunia maya seperti cyberbullying, kejahatan digital, hingga paparan konten radikalisme.
"Untuk memproteksi anak-anak kita, tidak bisa hanya mengandalkan orang tua saja. Dibutuhkan sinergi lima pilar: keluarga sebagai benteng utama, masyarakat, pemerintah, dunia usaha yang ramah anak, serta media massa yang menyajikan konten aman," ujar Lilik Ismurtono
Kepedulian lingkungan bukan sekadar wacana. Di tingkat akar rumput, peran masyarakat tercermin nyata lewat gerakan ibu-ibu PKK. Ketua PKK Desa Tegal Harum sekaligus Anggota Komisi 4 DPRD Kota Denpasar, Ni Luh Gede Ernawati, membagikan pengalaman bagaimana kelompok Dasa Wisma menjadi garda terdepan dalam menjaga kebahagiaan dan keselamatan anak di lingkungan tetangga.
Dengan skema satu kelompok Dasa Wisma memantau sekitar 10 Kepala Keluarga (KK), lingkungan desa dapat saling menjaga dan mendeteksi dini jika terdapat permasalahan anak. Melalui cara mengedukasi orang tua agar bijak mendampingi anak ber-medsos. Mengajak anak untuk aktif menjadi teladan sebaya sekaligus berani bersuara jika melihat tindakan tidak adil. Memastikan ruang tumbuh kembang anak di desa terpenuhi dengan kegiatan positif.
"Anak-anak adalah calon pemimpin kita di masa depan. Mempersiapkan mereka artinya membangun peradaban. Lewat Dasa Wisma, para ibu saling cek tetangga. Jika ada masalah pada anak, informasi bisa cepat didapat dan ditangani," tutur Bu Erna.
Sinergi antara komisi perlindungan anak, tokoh masyarakat, hingga regulasi pemerintah daerah terbukti menjadi kunci utama dalam mewujudkan predikat Kota Layak Anak. Menciptakan lingkungan yang peduli tidak membutuhkan langkah rumit. Kepedulian dapat dimulai dari hal sederhana, mengarahkan pandangan ke rumah sebelah, menyapa, dan memastikan setiap anak di sekitar kita tumbuh dalam rasa aman, gembira, dan dicintai. Masa depan Bali dan Indonesia dimulai dari hari ini. Ketika keluarga, tetangga, dan pemerintah saling bergandengan tangan, di situlah tawa dan kebahagiaan anak-anak akan senantiasa terjaga.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....