Mengintip Eksotisme Buah Klecung, Buah Hutan Tropis yang Kian Terlupakan
- 23 Jul 2026 15:08 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Indonesia dianugerahi kekayaan biodiversitas yang luar biasa, termasuk dalam lini buah-buahan lokal. Namun, beberapa di antaranya kini berada di ambang kepunahan karena jarang dilirik oleh generasi modern. Salah satu yang paling menarik perhatian para pencinta tanaman langka adalah Buah Klecung (atau di beberapa wilayah Nusantara dikenal dengan nama pohon makasar, galinggeman, atau Diospyros malabarica).
Tumbuhan yang termasuk dalam keluarga eboni (Ebenaceae) ini merupakan tanaman asli Asia tropis. Di Bali dan beberapa wilayah ceruk hutan Jawa-Nusa Tenggara, pohon klecung dahulu tumbuh subur dan menjadi bagian dari vegetasi lokal yang sangat dihormati.
Dikutip dari chanel entik mentik taru sedana, buah klecung memiliki penampilan yang sangat distingtif. Saat masih muda, buahnya berwarna hijau dengan bulu-bulu halus yang menutupi kulitnya. Namun, pesona utamanya muncul saat buah ini matang sempurna: kulitnya akan berubah menjadi warna cokelat tua kehitaman atau kuning tua dengan semburat merah karat.
Di dalam kulitnya yang agak keras, terdapat daging buah yang lunak dan lengket dengan rasa manis yang khas berbaur dengan sedikit rasa kelat (sepat). Di dalam daging buah tersebut biasanya terdapat beberapa biji besar yang berwarna cokelat mengilat.
Meskipun saat ini popularitasnya kalah saing dengan buah-buahan komersial, buah dan pohon klecung sebenarnya menyimpan segudang kegunaan:
Konsumsi Segar & Olahan: Masyarakat lokal zaman dahulu kerap mengonsumsi buah klecung matang secara langsung sebagai camilan sehat di sela-sela aktivitas bertani.
Khasiat Medis Obat Tradisional: Dalam pengobatan herbal kuno (termasuk sistem Ayurveda), ekstrak buah klecung yang belum matang digunakan sebagai astringen untuk mengobati diare, keputihan, hingga menyembuhkan luka terbuka karena kandungan taninnya yang sangat tinggi.
Pewarna Alami & Bahan Kayu: Getah dari buah klecung yang masih muda menghasilkan warna hitam pekat berkilau. Dahulu, getah ini dipakai untuk Mewarnai jaring ikan agar lebih awet, mematangkan warna kain tenun, hingga mengecat kayu. Sementara itu, kayunya yang keras dan berpola indah sering dijadikan bahan baku kerajinan bermutu tinggi.
Kondisi kelangkaan buah klecung saat ini cukup memprihatinkan. Lambatnya pertumbuhan pohon klecung yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk tegak kokoh dan berbuah membuatnya sering ditebang dan lahannya dialihfungsikan menjadi area pemukiman atau perkebunan komersial.
Selain itu, kurangnya regenerasi pengetahuan dari generasi tua ke generasi muda membuat banyak orang tidak lagi mengenali pohon ini, bahkan kerap menganggapnya sebagai pohon liar biasa di dalam hutan.
Mengingat pohon klecung juga memiliki fungsi ekologis yang baik untuk menahan air tanah dan mencegah erosi dengan akarnya yang kuat, pelestarian pohon ini menjadi urgen. Beberapa komunitas peduli lingkungan dan kebun raya di Indonesia kini mulai mengumpulkan bibit klecung untuk dibudidayakan secara ex-situ.
Upaya domestikasi, menjadikannya sebagai tanaman peneduh di taman kota, atau menyelipkannya dalam kurikulum edukasi botani lokal dapat menjadi langkah awal yang strategis. Menyelamatkan buah klecung bukan hanya soal mempertahankan satu jenis buah, melainkan menjaga mata rantai identitas alam Nusantara agar tidak hilang ditelan zaman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....