Terjebak Validasi Laki-Laki? Kenali Fenomena Male Centered

  • 23 Jul 2026 15:29 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Banyak perempuan yang mengaku merasa lebih percaya diri ketika mendapat pujian dari laki-laki. Mulai dari penampilan, pencapaian, hingga keputusan hidup yang seringkali diukur nilai dirinya berdasarkan bagaimana laki-laki memandang mereka.

Fenomena ini dikenal sebagai male centered, yaitu kondisi ketika segala keputusan dan penilaian diri sendiri banyak dipengaruhi oleh perspektif dan validasi laki-laki. Fenomena ini telah lama dikaji dalam psikologi dan studi gender.

Sejak kecil, banyak perempuan yang tumbuh dengan ajaran bahwa penampilan menarik, sikap lembut, dan kemampuan menyenangkan orang lain merupakan kualitas yang paling dihargai. Sementara itu, laki-laki lebih sering didorong untuk mengejar prestasi, kemandirian, dan kepemimpinan. Perbedaan pola asuh dan ekspektasi sosial tersebut membentuk cara perempuan memandang dirinya.

Psikolog menyebut bahwa kebutuhan akan validasi sebenernya merupakan kebutuhan dasar setiap manusia. Menurut teori Self Determination Theory, setiap individu membutuhkan rasa diterima, dihargai, dan memiliki hubungan yang bermakna dengan orang lain.

Ketika harga diri bergantung hampir sepenuhnya pada pengakuan dari pihak tertentu termasuk laki-laki bisa berdampak pada psikologis. Saat validasi tersebut tidak diperoleh, maka kesejahteraan psikologis rentan terganggu dan berusaha mencari lagi dengan berbagai cara.

Perkembangan media sosial juga memperkuat fenomena ini dengan algoritma platform digital yang cenderung memberi ruang lebih besar pada konten visual. Akibatnya Sebagian pengguna merasa terdorong untuk mendapatkan jumlah like, komentar, dan pujian sebagai tolak ukur nilai diri.

Budaya populer juga seringkali menggambarkan perempuan sebagai sosok yang berhasil ketika bisa mendapatkan perhatian atau dipilih oleh laki-laki. Menurut Geena Davis Institute on Gender Media, narasi dalam film, sering, laku kerap menempatkan kisah cinta sebagai tujuan utama kehidupan perempuan. Paparan tersebut yang membentuk penerimaan bahwa laki-laki merupakan ukuran utama kebahagiaan dan keberhasilan.

Fenomena male centered juga terlihat ketika seseorang merasa lebih bahagia ketika dipuji laki-laki dibanding perempuan lain. Apalagi jika mempertimbangkan penampilan agar disukai laki-laki daripada demi kenyamanan diri sendiri. Hal tersebut tidak menunjukkan masalah namun dapat menjadi tanda ketika kebutuhan validasi mulai menggeser identitas diri.

Kebutuhan akan validasi adalah bagian dari sifat manusia. Namun, ketika seluruh rasa percaya diri hanya bergantung pada pengakuan laki-laki, seseorang berisiko kehilangan kesempatan untuk mengenali nilai dirinya sendiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....