Buah Buni, "Anggur Mini" Nusantara yang Kaya Antioksidan Kini Kian Langka

  • 20 Jul 2026 09:20 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Bagi generasi yang menghabiskan masa kecilnya di pedesaan, melihat untaian buah berwarna-warni yang menggelantung di dahan pohon tentu menjadi kenangan tersendiri. Salah satu yang paling ikonik adalah Buah Buni (atau dengan nama ilmiah Antidesma bunius). Buah lokal yang sekilas menyerupai untaian anggur berukuran mini ini, kini nasibnya kian terpinggirkan dan mulai asing di telinga generasi Alpha maupun Gen Z.

Secara botani, pohon buni termasuk dalam keluarga Phyllanthaceae. Pohonnya berkayu keras, berdaun lebat, dan mampu tumbuh hingga belasan meter, menjadikannya salah satu pohon peneduh pekarangan yang sangat tangguh di wilayah tropis, termasuk Indonesia.

Salah satu daya tarik utama dari buah buni adalah penampilannya saat berbuah. Dalam satu dompolan (untaian), buah buni tidak matang secara bersamaan, sehingga menciptakan gradasi warna yang sangat indah:

Warna: Dimulai dari hijau kekuningan saat muda, berubah menjadi merah cerah, dan akhirnya menjadi ungu pekat hingga hitam mengilat saat matang sempurna.

Cita Rasa: Buah buni menawarkan sensasi rasa yang sangat kaya dan menyegarkan. Buah yang berwarna merah memiliki rasa asam yang tajam, sedangkan buah yang sudah menghitam akan terasa manis dengan sedikit sensasi sepet.

Karena karakteristik rasanya yang "rame" ini, buah buni sejak dahulu menjadi bahan baku paling prima untuk membuat rujak ulek, rujak tumbuk (bebeg), hingga diolah menjadi sirup dan selai tradisional.

Dibalik ukurannya yang kecil, buah buni sebenarnya layak dikategorikan sebagai superfood lokal karena menyimpan segudang nutrisi yang luar biasa bagi tubuh seperti dilansir dari hellosehat.com :

Pembangkit Imunitas (Kaya Vitamin C): Rasa asamnya yang pekat menandakan tingginya kadar vitamin C, yang berfungsi menjaga daya tahan tubuh dan menangkal radikal bebas.

Menjaga Kesehatan Mata: Buah buni mengandung vitamin A dalam jumlah yang baik untuk mendukung fungsi penglihatan.

Tinggi Antioksidan (Antosianin): Warna ungu gelap hingga hitam pada buah buni matang berasal dari pigmen antosianin. Senyawa antioksidan kuat ini diketahui sangat baik untuk menjaga kesehatan jantung, mengontrol tekanan darah, dan mencegah penuaan dini pada sel.

Solusi Pencernaan & Diabetes: Secara tradisional, buah buni juga sering dikonsumsi untuk melancarkan pencernaan (mengatasi sembelit) serta membantu menurunkan kadar gula darah berlebih.

Sama seperti nasib tanaman endemik lainnya, kelangkaan buah buni dipicu oleh menyempitnya lahan pekarangan di area urban dan pedesaan. Pohon buni yang berukuran besar dinilai kurang praktis untuk ditanam di perumahan modern.

Selain itu, karena sifat buahnya yang mudah rusak (ranum) setelah dipetik, buah buni sangat jarang dilirik oleh pedagang buah komersial berskala besar. Akibatnya, nilai ekonomisnya dianggap rendah, dan masyarakat lebih memilih menebangnya untuk diganti dengan tanaman hias atau bangunan. Saat ini, buah buni hampir mustahil ditemukan di supermarket dan hanya sesekali muncul di pasar tradisional pedalaman saat musimnya tiba.

Mengingat potensinya yang besar, para ahli hortikultura dan komunitas pencinta lingkungan kini mulai mengampanyekan gerakan menanam kembali buah buni. Melalui teknik budidaya modern seperti cangkok atau sambung pucuk, pohon buni kini bisa diatur agar tumbuh lebih pendek sehingga cocok untuk tabulampot (tanaman buah dalam pot) di lahan terbatas.

Mengenalkan kembali eksotisme buah buni melalui kreasi kuliner modern seperti menjadikannya bahan baku topping kue, jus premium, atau kombucha bisa menjadi langkah strategis. Menyelamatkan buah buni bukan sekadar mempertahankan tanaman liar, melainkan menjaga kekayaan plasma nutfah dan identitas rasa Nusantara agar tidak punah ditelan zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....