Kesehatan Mental Anak Berawal dari Obrolan Sederhana di Rumah

  • 06 Jul 2026 08:26 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Di tengah meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental anak, komunikasi dalam keluarga dinilai menjadi fondasi utama yang sering kali terlupakan. Kesibukan orang tua bekerja, aktivitas adat, hingga penggunaan gawai membuat waktu berkumpul bersama anak semakin berkurang. Padahal, obrolan sederhana di rumah dapat menjadi langkah awal menjaga kesehatan mental anak.

Dalam acara Rahajeng Bali pada Jumat, 3 Juli 2026, Komisioner KPAD Provinsi Bali, Lilik Ismurtono Santoso, S.Sn., S.Pd., mengatakan banyak persoalan kesehatan mental anak berawal dari kurangnya komunikasi antara orang tua dan anak. "Sering kali harapan orang tua tidak sinkron dengan harapan anak. Kondisi ini memicu tekanan yang akhirnya berdampak pada kesehatan mental mereka," ujarnya.

Psikolog Puspaga Dharma Negara Kota Denpasar, A. A. Galah Gumilang, S.Psi., Psikolog, menambahkan bahwa keluarga merupakan lingkungan pertama yang membentuk kondisi psikologis anak. Menurutnya, anak membutuhkan ruang untuk didengar, bukan hanya diberi nasihat. Komunikasi dua arah yang hangat akan membuat anak merasa aman untuk menceritakan apa yang sedang dialaminya.

Ia menjelaskan, hubungan yang dibangun sejak anak masih berusia dini akan menjadi bekal penting ketika mereka memasuki usia remaja. Anak yang terbiasa berdiskusi dengan orang tua cenderung lebih terbuka saat menghadapi masalah dibandingkan memendam perasaan atau mencari pelarian di lingkungan yang kurang tepat.

"Kesempatan menjadi orang tua bagi anak usia empat atau lima tahun hanya terjadi sekali. Manfaatkan momen itu untuk membangun kedekatan, misalnya dengan membacakan buku cerita, mengobrol sebelum tidur, atau sekadar mendengarkan cerita mereka tentang aktivitas sehari-hari," kata Galah Gumilang.

Di sisi lain, Duta Anak Kota Denpasar 2026 Komisi Kesehatan, Ni Kadek Prema Jyothi Sai Prasanthi, menilai tidak semua anak memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya kepada keluarga. Karena itu, Forum Anak Kota Denpasar menghadirkan program Teman Ceria (Cerita Anak Denpasar) sebagai ruang aman bagi anak untuk berbagi cerita dengan teman sebaya sebelum mendapatkan pendampingan profesional apabila diperlukan.

Melalui program tersebut, anak-anak dapat menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi, mulai dari tekanan belajar hingga masalah pergaulan. Menurut Jyothi, langkah ini diharapkan dapat mencegah persoalan kesehatan mental berkembang menjadi lebih serius karena anak memiliki tempat untuk didengar sejak dini.

Pesan yang mengemuka dari dialog tersebut sederhana namun penting, yaitu menjaga kesehatan mental anak tidak selalu membutuhkan cara yang rumit. Meluangkan waktu untuk mengobrol, mendengarkan tanpa menghakimi, dan membangun kedekatan emosional di rumah menjadi investasi berharga agar anak tumbuh sehat, percaya diri, dan mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....