Asal-Usul Unik di Balik Simbol Tanda Tanya
- 25 Jun 2026 12:06 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Dalam aktivitas komunikasi digital maupun penulisan formal sehari-hari, kita secara otomatis membubuhkan simbol tanda tanya (?) di setiap akhir kalimat interogatif. Kehadiran simbol kecil ini sangat krusial untuk menegaskan bahwa kalimat yang kita sampaikan membutuhkan jawaban, sekaligus pembeda jelas dari kalimat pernyataan atau seruan.
Namun, pernahkah Anda memperhatikan bentuknya yang melengkung dengan sebuah titik di bawahnya? Mengapa bentuknya harus seperti itu dan bagaimana manusia zaman dahulu menandai sebuah pertanyaan sebelum simbol ini diciptakan?
Jika ditarik garis sejarah ke belakang, simbol ini lahir dari kreativitas para juru tulis abad pertengahan yang ingin menghemat waktu dan kertas. Pada masa abad pertengahan di Eropa (sekitar abad ke-5 hingga ke-15), mesin cetak belum ditemukan.
Semua buku, naskah keagamaan, dan dokumen hukum harus disalin secara manual menggunakan tangan oleh para juru tulis (skriba) di atas lembaran perkamen atau kulit hewan yang harganya sangat mahal. Berdasarkan catatan dari The British Library, pada masa awal literasi tersebut, aturan tanda baca belum dibakukan seperti sekarang.
Kalimat-kalimat ditulis menyambung tanpa jarak yang jelas (scriptura continua). Akibatnya, para juru tulis sering kali kesulitan untuk menandakan bahwa sebuah kalimat dalam naskah merupakan sebuah pertanyaan, bukan pernyataan.
Membaca teks tanpa penanda intonasi sering kali memicu kesalahpahaman bagi orang yang membacakannya di depan publik. Untuk menyiasatinya, para juru tulis di era Kekaisaran Romawi mulai menuliskan kata Latin "Quaestio" di setiap akhir kalimat tanya.
Dalam bahasa Latin, Quaestio memiliki arti pertanyaan, penjelajahan, atau investigasi. Menulis kata "Quaestio" secara utuh di setiap akhir kalimat interogatif ternyata memakan banyak waktu dan menguras ruang lembaran perkamen yang berharga. Demi efisiensi, para juru tulis kemudian berinovasi dengan menyingkat kata tersebut menjadi dua huruf saja, yaitu "Qo" (huruf Q kapital dan o kecil).
Lynne Truss, seorang pakar bahasa dan penulis buku sejarah tanda baca ternama "Eats, Shoots & Leaves", menjelaskan bahwa agar penulisan singkat ini tidak rancu dengan kata lain di dalam kalimat, para juru tulis menumpuk kedua huruf tersebut secara vertikal. Huruf 'Q' kapital ditulis di bagian atas, sementara huruf 'o' kecil diletakkan tepat di bawah rongga huruf Q.
Proses penyalinan naskah yang dilakukan secara massal dan cepat oleh ribuan juru tulis selama berabad-abad membawa perubahan besar pada bentuk tulisan tangan ini:
Huruf 'Q' Atas: Karena ditulis terburu-buru dengan pena bulu ayamquill), bentuk huruf 'Q' yang kaku lambat laun mulai menyusut, kehilangan garis vertikal dasarnya, dan bertransformasi menjadi garis melengkung ($\sim$).
Huruf 'o' Bawah: Huruf 'o' kecil yang berada di posisi paling bawah terus menyusut ukurannya akibat goresan pena yang cepat, hingga akhirnya menyisakan sebuah titik (.) saja.
Catatan dari Oxford English Dictionary mengenai sejarah ortografi menunjukkan bahwa pada sekitar abad ke-14, kombinasi vertikal dari transformasi huruf 'Q' dan 'o' ini akhirnya melebur sepenuhnya menjadi satu simbol standar tunggal yang kita kenal sekarang sebagai tanda tanya (?).
Selain teori singkatan kata Latin Quaestio, beberapa peneliti budaya memiliki teori alternatif yang tidak kalah populer. Bentuk melengkung tanda tanya diyakini sebagian orang terinspirasi dari gestur tubuh kucing.
Ketika seekor kucing sedang merasa penasaran, tertarik, atau menyelidiki sesuatu yang asing di sekitarnya, mereka sering kali mengangkat ekornya ke atas dengan ujung yang melengkung membentuk pola menyerupai simbol (?). Namun, dalam studi akademis sejarah bahasa (paleografi), teori evolusi tulisan Latin "Qo" dari para juru tulis tetap menjadi rujukan utama karena didukung oleh bukti fisik pada manuskrip-manuskrip kuno yang tersimpan di museum.
Mengenal sejarah di balik hal-hal kecil seperti tanda tanya membuktikan bahwa bahasa dan simbol yang kita gunakan hari ini tidak lahir di ruang hampa. Mereka adalah hasil evolusi panjang dari cara manusia beradaptasi, memecahkan masalah komunikasi, dan menyederhanakan kehidupan dari masa ke masa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....