Pengasingan Soekarno, Ini Tempat-tempatnya

  • 02 Jun 2026 18:22 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID., Denpasar : Soekarno merupakan bapak proklamator sekaligus Presiden Pertama Negara Republik Indonesia. Pada masa penjajahan ide-ide dan pemikirannya menjadi momok bagi penjajah. Untuk memotong pergerakan dan pemikirannya pada masa sebelum dan sesudah kemerdekaan Indonesia Soekarno diasingkan ke beberapa tempat.

Dilansir dari berbagai sumber, Soekarno diasingkan di beberapa lokasi berbeda pada masa penjajahan Belanda. Berdasarkan Sejarah, lokasi utama pengasingan Soekarno meliputi Ende (Flores), Bengkulu, Brastagi & Parapat (Sumatera Utara), serta Rengasdengklok (Karawang).

Berikut tempat dan rincian tempat pengasingan Bung Karno berdasarkan Sejarah. Tempat pengasingan Soekarno yang pertama adalah Ende, Nusa Tenggara Timur. Soekarno diasingkan ke Ende dari tahun 1934 hingga 1938. Soekarno diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda karena aktivitas politiknya yang dianggap membahayakan. Di kota ini, ia tinggal di sebuah rumah di Kampung Ambugaga, Kelurahan Kotaraja. Di Ende juga Bung Karno merenungkan dan menemukan dasar negara Indonesia, yang kini dikenal sebagai Pancasila.

Setelah empat tahun di Ende, Soekarno dipindahkan oleh Belanda ke Bengkulu. Soekarno diasingkan di Bengkulu dari tahun 1938 sampai dengan 1942. Ia menempati rumah bergaya Eropa dengan sentuhan arsitektur Tionghoa di Jalan Soekarno-Hatta, Kelurahan Anggut Atas. Selama di pengasingan ini, beliau bertemu dengan Fatmawati.

Pada masa Agresi Militer Belanda II, Soekarno, Sutan Sjahrir dan H. Agus Salim ditangkap dan diasingkan ke luar Jawa. Tempat pengasingan ketiga Soekarno ini berada di Sumatera Utara. Tepatnya di daerah Brastagi dan Pearapat. Di Brastagi, mereka ditahan selama belasan hari di sebuah rumah di Desa Lau Gumba. Sedangkan di Parapat, Soekarno dipindahkan ke sebuah pesanggrahan di tepi Danau Toba. Soekarno diasingkan di daerah ini dari tahun 1948 hingga 1949.

Selain pengasingan oleh Belanda, Soekarno bersama Mohammad Hatta sempat diculik dan dibawa ke Rengasdengklok oleh para pemuda pejuang pada 16 Agustus 1945. Mereka diamankan di rumah seorang petani keturunan Tionghoa bernama Djiaw Kie Siong agar terhindar dari pengaruh Jepang dan segera memproklamasikan kemerdekaan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....