Akun Palsu dan Keberanian Semu: Sisi Gelap Interaksi di Media Sosial
- 14 Apr 2026 21:19 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Di balik kemudahan berinteraksi di media sosial, tersimpan fenomena yang kian marak dan meresahkan yaitu penggunaan akun palsu yang memicu munculnya keberanian semu. Tanpa identitas yang jelas, sebagian orang merasa lebih bebas untuk berkomentar, mengkritik, bahkan menyerang orang lain tanpa mempertimbangkan dampaknya.
Realitas ini terlihat dari meningkatnya komentar bernada kasar, ujaran kebencian, hingga perilaku menghakimi yang kerap terjadi di ruang digital. Hanya dengan jari dan layar, seseorang dapat dengan mudah melontarkan opini tanpa harus berhadapan langsung dengan orang yang dituju. Situasi ini membuat batas antara kebebasan berekspresi dan etika komunikasi menjadi semakin kabur.
Penyuluh Agama Hindu Kemenag Kabupaten Badung, Ni Luh Ernawati, S.H.., M.I.Kom, dalam acara Rahajeng Bali pada Selasa, 7 April 2026, menjelaskan bahwa perilaku tersebut tidak lepas dari dominasi ego dalam diri manusia. Menurutnya, ketika ego tidak terkendali, seseorang cenderung merasa paling benar dan mengabaikan perasaan orang lain. “Tanpa empati, interaksi akan dipenuhi sikap menghakimi dan konflik,” ujarnya.
Keberadaan akun palsu semakin memperkuat fenomena ini. Identitas anonim memberi ruang bagi individu untuk bertindak tanpa rasa tanggung jawab. Mereka dapat menyampaikan kritik secara berlebihan, menyebarkan opini yang belum tentu benar, bahkan memicu konflik tanpa konsekuensi langsung.
Dalam konteks ajaran Hindu, kondisi ini dapat dikaitkan dengan Sapta Timira, khususnya pada aspek kasuran atau keberanian. Keberanian pada dasarnya merupakan hal positif, namun jika tidak dikendalikan, dapat berubah menjadi tindakan yang merugikan. Keberanian yang tidak disertai kebijaksanaan justru melahirkan sikap agresif dan destruktif.
Fenomena ini juga menunjukkan menurunnya empati dalam interaksi digital. Ketika komunikasi dilakukan tanpa tatap muka, ekspresi emosi menjadi tidak terlihat, sehingga seseorang lebih mudah melupakan bahwa ada manusia lain di balik layar. Akibatnya, kata-kata yang dilontarkan sering kali tidak terfilter dan berpotensi menyakiti.
Padahal, media sosial sejatinya dapat menjadi ruang untuk berbagi informasi, membangun relasi, dan menyebarkan hal-hal positif. Namun, tanpa kesadaran dan pengendalian diri, platform ini justru berubah menjadi arena konflik dan saling serang.
Melihat kondisi tersebut, penting bagi masyarakat untuk kembali menempatkan etika dan empati sebagai dasar dalam berinteraksi, baik di dunia nyata maupun digital. Menggunakan identitas secara bertanggung jawab, berpikir sebelum berkomentar, serta menghargai sudut pandang orang lain menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan.
Di tengah derasnya arus komunikasi digital, keberanian seharusnya tidak digunakan untuk menyakiti, melainkan untuk menyuarakan kebenaran dengan cara yang bijaksana. Karena pada akhirnya, kualitas interaksi di media sosial mencerminkan kualitas karakter penggunanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....