Sapta Timira: Tujuh Sifat yang Bisa Menggelapkan Pikiran Manusia

  • 14 Apr 2026 21:00 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh distraksi, manusia kerap dihadapkan pada berbagai pilihan dan godaan yang memengaruhi cara berpikir maupun bertindak. Tanpa disadari, ada sisi dalam diri yang dapat mengaburkan kejernihan pikiran hingga menjauhkan manusia dari sikap bijaksana. Dalam ajaran Hindu, kondisi ini dikenal sebagai Sapta Timira.

Penyuluh Agama Hindu Kemenag Kabupaten Badung, Ni Luh Ernawati, S.H.., M.I.Kom, menjelaskan bahwa Sapta Timira berasal dari kata sapta yang berarti tujuh dan timira yang berarti gelap atau suram. “Ini adalah sifat-sifat yang dapat membuat pikiran menjadi tidak jernih, sehingga seseorang sulit membedakan mana yang baik dan buruk,” ujarnya dalam Dalam acara Rahajeng Bali pada Selasa, 7 April 2026.

Ketujuh sifat tersebut meliputi Surupa (ketampanan atau kecantikan), Dhana (kekayaan), Guna (kepandaian), Kulina (keturunan), Yowana (kemudaan), Sura (minuman keras), dan Kasuran (keberanian/kekuatan/kesaktian). Pada dasarnya, ketujuh hal ini bukanlah sesuatu yang negatif. Namun, ketika disertai dengan ego berlebihan, semuanya dapat berubah menjadi sumber kesombongan dan perilaku yang merugikan.

Misalnya, seseorang yang memiliki penampilan menarik bisa terjebak dalam kesombongan dan merendahkan orang lain. Begitu pula dengan kekayaan atau kepandaian yang seharusnya membawa manfaat, justru dapat menjadi alat untuk merasa lebih unggul. “Kata kuncinya ada pada ego. Ketika ego tidak terkendali, maka keputusan yang diambil cenderung tidak bijaksana,” jelas Ni Luh Ernawati.

Fenomena ini juga semakin relevan di era digital. Media sosial kerap menjadi ruang di mana seseorang menunjukkan kelebihan dirinya, namun di sisi lain juga membuka peluang munculnya sikap pamer, saling membandingkan, hingga merendahkan orang lain. Tanpa pengendalian diri, nilai-nilai dalam Sapta Timira dapat semakin memperkuat kecenderungan tersebut.

Selain itu, kurangnya empati juga menjadi dampak yang tidak terpisahkan. Ketika seseorang terlalu fokus pada dirinya sendiri karena kecantikan, kekayaan, maupun kepandaian, membuat kemampuan untuk memahami orang lain cenderung menurun. Akibatnya, interaksi sosial menjadi kurang harmonis dan lebih rentan konflik.

Meski demikian, ajaran Sapta Timira tidak semata-mata menjadi peringatan, tetapi juga pengingat agar manusia mampu mengendalikan diri. Nilai-nilai ini mendorong setiap individu untuk tetap rendah hati, menjaga keseimbangan, serta menggunakan segala kelebihan yang dimiliki untuk kebaikan bersama.

Di tengah arus modernisasi, pemahaman terhadap nilai-nilai kearifan lokal seperti Sapta Timira menjadi semakin penting. Bukan hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai pedoman untuk menjaga kejernihan pikiran dan keharmonisan dalam kehidupan sehari-hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....