Empati di Ujung Jari: Mudah Menghakimi di Media Sosial
- 14 Apr 2026 20:49 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Di era digital saat ini, interaksi sosial tak lagi terbatas pada ruang fisik. Melalui layar ponsel, siapa pun bisa berkomentar, menilai, bahkan menghakimi orang lain hanya dengan sentuhan jari. Namun di balik kemudahan itu, muncul fenomena yang kian mengkhawatirkan: menurunnya empati dalam berkomunikasi di media sosial.
Fenomena ini terlihat dari maraknya komentar bernada kasar, hujatan, hingga penilaian sepihak terhadap seseorang tanpa memahami konteks yang sebenarnya. Banyak pengguna media sosial dengan mudah melontarkan opini tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain. Apalagi dengan adanya akun anonim atau palsu, sebagian orang merasa lebih bebas untuk berkata apa saja tanpa tanggung jawab.
Dalam acara Rahajeng Bali pada Selasa, 7 April 2026, Penyuluh Agama Hindu Kemenag Kabupaten Badung, Ni Luh Ernawati, S.H.., M.I.Kom, menjelaskan bahwa empati merupakan kemampuan untuk memahami dan merasakan apa yang dialami orang lain tanpa harus mengalaminya secara langsung. “Dengan empati, seseorang tidak akan mudah menghakimi karena ada rasa ikut merasakan di dalamnya,” ujarnya.
Namun, ketika empati mulai memudar, yang muncul justru perilaku sebaliknya. Komentar-komentar negatif, sikap merendahkan, hingga tindakan agresif di dunia maya menjadi hal yang lumrah. Bahkan, tidak sedikit konflik sosial yang bermula dari kesalahpahaman di media digital.
Menurut Ni Luh Ernawati, kondisi ini tidak lepas dari dominasi ego dalam diri manusia. Ego yang tidak terkendali dapat mendorong seseorang untuk merasa paling benar, lebih tinggi, dan mengabaikan sudut pandang orang lain. Dalam ajaran Hindu, kondisi ini dikenal sebagai bagian dari Sapta Timira, yakni tujuh sifat kegelapan yang dapat menutupi kebijaksanaan manusia.
“Ketika ego lebih dominan, keputusan yang diambil cenderung tidak bijaksana dan jauh dari nilai-nilai dharma,” tegas Ni Luh Ernawati. Ia juga menambahkan bahwa semakin tinggi ego seseorang, maka empatinya cenderung semakin berkurang.
Realitas ini semakin diperparah dengan kebiasaan masyarakat yang kini menghabiskan banyak waktu di dunia maya. Interaksi yang minim tatap muka membuat ekspresi emosi menjadi tidak terlihat, sehingga orang lebih mudah melupakan bahwa ada manusia lain di balik layar.
Padahal, dalam kehidupan sosial, empati memegang peranan penting untuk menjaga keharmonisan. Tanpa empati, hubungan antarmanusia akan dipenuhi prasangka, konflik, dan sikap saling menyalahkan.
Melalui fenomena ini, masyarakat diingatkan untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Sebelum menulis komentar atau membagikan pendapat, penting untuk mempertimbangkan dampaknya bagi orang lain. Mengedepankan empati bukan hanya menjaga perasaan sesama, tetapi juga menciptakan ruang digital yang lebih sehat dan manusiawi.
Di tengah derasnya arus informasi dan kebebasan berekspresi, empati seharusnya tetap menjadi landasan utama. Karena pada akhirnya, di balik setiap akun, selalu ada manusia yang memiliki perasaan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....