BPBD Bali Ingatkan Modernisasi Jangan Rusak Tatanan Desa
- 07 Apr 2026 05:29 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar- Penata Penanggulangan Bencana Ahli Muda, Serta Ketua Tim Kajian, Verifikasi Rehabilitasi Dan Rekonstruksi, Bidang Rehabilitasi Dan Rekonstruksi BPBD Provinsi Bali, Sang Putu Adi Sanjaya,S.Kom.M.A.P., mengungkapkan pembangunan infrastruktur modern di wilayah pedesaan Bali saat ini, sering kali justru mengabaikan tatanan ekosistem, yang telah diatur oleh leluhur sejak zaman dahulu. Fenomena ini memicu kekhawatiran karena banyak proyek fisik yang dianggap "kreatif", namun sebenarnya merusak fungsi fungsional alam sebagai benteng pertahanan bencana di Bali.
"Leluhur kita sudah membuat sistem seperti aviari di desa yang sangat lengkap. Namun kita sekarang terlalu kreatif saking kreatifnya malah merusak tatanan tersebut," ungkap Adi Sanjaya, ketika berbincang dalam program acara Obrolan Komunitas di Pro 4 RRI Denpasar.
Adi Sanjaya menambahkan, salah satu dampak nyata terlihat pada proyek penyenderan sungai yang menggunakan beton masif, sehingga menghilangkan habitat alami bagi ikan air tawar seperti Julit ( ikan sidat). Padahal, keberadaan ikan yang disucikan atau tenget tersebut, merupakan indikator alami, bahwa sumber air di wilayah tersebut masih terjaga dengan baik dan melimpah.
"Tukad atau sungai yang dirusak dengan penyenderan membuat ikan Julit atau ikan sidat tidak bisa hidup. Padahal itu bersifat fungsional sebagai penanda keberadaan sumber air bagi desa” jelas Adi Sanjaya
Adi Sanjaya mengungkapkan sistem mitigasi bencana Bali, sebenarnya sudah terkristalisasi dalam bentuk ukiran pelinggih, tata letak purana, hingga sinkronisasi antara manusia dengan alam sekitarnya. Ketika tatanan ini diubah atau digeneralisasi tanpa memahami sepat petitis (ukuran tradisional), maka risiko munculnya wabah atau bencana pancabaya justru semakin meningkat di desa adat.
Masyarakat dan pemimpin desa diharapkan tidak hanya membanggakan warisan adiluhung secara lisan, namun juga memahami fungsi teknis di balik setiap aturan adat. Mengembalikan kemandirian desa adat dalam mengelola wilayahnya sesuai sastra kuno, menjadi langkah paling modern dalam menjaga keselamatan krama dari ancaman bencana alam.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....