Kearifan Lokal Bali Jadi Fondasi Utama Mitigasi Bencana
- 07 Apr 2026 03:52 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar- Penanggulangan bencana di wilayah Provinsi Bali saat ini, sangat bergantung pada kesadaran Masyarakat, dalam menjaga kelestarian alam melalui mitigasi bencana berbasis kearifan lokal. Penata Penanggulangan Bencana Ahli Muda, Serta Ketua Tim Kajian, Verifikasi Rehabilitasi Dan Rekonstruksi, Bidang Rehabilitasi Dan Rekonstruksi BPBD Provinsi Bali, Sang Putu Adi Sanjaya,S.Kom.M.A.P., mengatakan pemahaman mengenai konsep Tegak Linggih Karang Awak, Karang Umah, dan Karang Desa sangat berperan dalam membangun kesiapsiagaan bencana berbasis budaya.
Adi Sanjaya mengungkapkan masyarakat Bali sebenarnya sudah memiliki cetak biru mitigasi, yang diwariskan oleh leluhur melalui konsep tata ruang dan etika yang sangat disiplin. "Kita memiliki kewajiban menjaga tiga pilar yaitu Tegak Linggih Karang Awak, Karang Umah, dan Karang Desa yang di dalamnya mengandung unsur kesiapsiagaan bencana," ungkap Adi Sanjaya dalam program acara Obrolan Komunitas di Pro 4 RRI Denpasar.
Adi Sanjaya menjelaskan konsep tersebut menekankan bahwa setiap individu harus menyadari kewajiban atau sesana, dalam menjaga kebersihan diri, lingkungan rumah, hingga keutuhan wilayah desa adat. Menurut Adi Sanjaya jika masyarakat mampu menjalankan prinsip-prinsip tersebut secara konsisten, maka ketergantungan pada teknologi modern, dalam mendeteksi bencana dapat diminimalisir secara alami.
Sayangnya, pergeseran pemahaman saat ini membuat banyak orang hanya menganggap tradisi sebagai simbol atau ritual semata,tanpa memaknai fungsi praktis di baliknya. Contohnya adalah penggantian pohon penyerap air dengan bangunan permanen, yang justru meningkatkan risiko bencana di lingkungan suci maupun pemukiman.
"Untuk itu penting bagi kita minimal kita melakukan restorasi dan memegang blueprint warisan leluhur. Dengan Bersama – sama melakukan sebesar nol koma satu persen saja, maka ketahanan masyarakat Bali terhadap bencana akan menjadi sangat hebat," tegas Adi Sanjaya.
Adi Sanjaya pun mendorong penguatan otonomi desa adat, agar kembali menggali sastra dan tatwa yang mengatur hubungan harmonis antara manusia dengan alam. Keselarasan antara waktu pelaksanaan upacara dengan kondisi alam sekitar, merupakan bentuk SOP mitigasi bencana yang paling autentik dan teruji.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....