Media Sosial dan Anak: Teman Bermain atau Sumber Masalah saat Libur?
- 04 Apr 2026 16:01 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar — Di era digital, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak-anak. Terlebih saat libur panjang, ketika aktivitas sekolah berhenti, gawai sering kali menjadi “teman bermain” utama. Namun, di balik kemudahan akses dan hiburan yang ditawarkan, tersimpan pula berbagai potensi risiko yang perlu diwaspadai.
Dalam acara Rahajeng Bali pada Jumat, 3 April 2026, yang membahas terkait kebijakan libur cuti bersama dari berbagai perspektif. Komisioner Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Bali, Ir. I Made Ariasa, M.Pd, menyoroti bahwa kurangnya pengawasan saat libur dapat mendorong anak lebih banyak menghabiskan waktu di media sosial tanpa kontrol.
Menurutnya, media sosial kini tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga ruang interaksi yang berpotensi menimbulkan masalah. Kasus seperti perundungan daring (cyberbullying), konten negatif, hingga tekanan sosial menjadi tantangan nyata yang dihadapi anak-anak. “Ketika tidak ada pengawasan, anak cenderung mencari kesenangan sendiri, salah satunya melalui media sosial, yang jika tidak diarahkan bisa berdampak buruk,” tegasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa beberapa kasus yang ditangani menunjukkan adanya anak yang terpapar konten berbahaya hingga perilaku menyimpang akibat penggunaan media sosial yang tidak bijak. Kondisi ini diperparah ketika orang tua memiliki keterbatasan waktu untuk mendampingi, terutama di tengah tuntutan ekonomi.
Namun demikian, media sosial tidak sepenuhnya berdampak negatif. Perwakilan Forum Anak Daerah Bali, I Made Krisna Sukma Wardana menilai bahwa platform digital justru bisa menjadi sarana pengembangan diri jika dimanfaatkan dengan tepat. Anak-anak dapat mengakses informasi edukatif, mengasah kreativitas, hingga membuat konten positif.
Hal serupa disampaikan oleh Duta Anak Provinsi Bali 2025, Dheandra Aurelia Anjani Harahap, yang melihat media sosial sebagai peluang bagi generasi muda untuk berkarya. “Kita bisa memanfaatkan media sosial untuk hal-hal baik, seperti membuat video edukasi atau mencari informasi yang bermanfaat,” jelasnya.
Meski begitu, ia menekankan pentingnya kesadaran diri anak dalam menggunakan media sosial, serta peran orang tua dalam memberikan arahan. Tanpa pendampingan, anak berisiko salah dalam memilih konten maupun lingkungan pergaulan digital.
Pada akhirnya, media sosial ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi, ia menjadi teman bermain yang membuka peluang belajar dan berekspresi. Namun di sisi lain, tanpa pengawasan dan pemahaman yang cukup, ia dapat menjadi sumber masalah yang mengancam tumbuh kembang anak.
Libur panjang pun menjadi momen penting bagi orang tua untuk tidak hanya memberi waktu luang, tetapi juga memastikan anak tetap berada dalam lingkungan yang aman, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....