Quiet Quitting : Batas Sehat atau Kurang Profesional?

  • 09 Mar 2026 20:19 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Istilah quiet quitting semakin sering dibicarakan di dunia kerja karena merujuk pada keseimbangan hidup. Istilah ini mengacu pada sikap pekerja yang memilih untuk melakukan tugas sesuai jobdesk pekerjaan tanpa usaha tambahan di luar tanggung jawab.

Melansir dari BBC, fenomena quiet quitting muncul sebagai respons terhadap tekanan kerja yang tinggi dan tuntutan produktivitas yang terus meningkat. Banyak orang melihatnya sebagai cara untuk menjaga kewarasan dan kesehatan mental antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Meskipun namanya mengandung kata “quitting” atau berhenti, fenomena ini sebenarnya tidak berarti mengundurkan diri dari pekerjaan atau resign. Sebaliknya, pekerja tetap menjalankan tugas sesuai jobdesk namun menolak untuk bekerja berlebihan seperti lembur tanpa kompensasi.

The New York Times mengungkapkan bahwa fenomena ini mulai populer secara global sejak tahun 2022 setelah viral di media sosial tiktok. Banyak pekerja yang membagikan pengalaman kerja mereka secara berlebihan dapat menyebabkan kelelahan atau burnout. Melalui konsep quiet quitting, generasi muda mencoba menetapkan batasan yang lebih jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Beberapa pihak menilai quiet quitting sebagai langkah yang positif karena menetapkan batasan kerja yang sehat. Harvard Business Review menyebutkan bahwa pekerja yang memiliki batasan jelas justru cenderung lebih produktif dan mampu mempertahankan kinerja dalam jangka panjang.

Tidak selalu dianggap positif, fenomena quiet quitting juga banyak dikritik oleh beberapa pihak. Beberapa perusahaan menganggap fenomena ini adalah bentuk kurangnya komitmen pegawai terhadap pekerjaan. Sikap ini dianggap bisa menurunkan kinerja tim dan menghambat inovasi di tempat kerja.

Perdebatan mengenai quiet quitting semakin menimbulkan pertanyaan, apakah menetapkan batasan kerja adalah bentuk profesionalitas atau menurunkan etos kerja?. Fenomena ini justru menguak adanya masalah dalam budaya kerja modern. Kurangnya komunikasi antara karyawan dan perusahaan, minimnya apresiasi, dan beban kerja berlebihan sering terjadi dan dirasakan generasi muda.

Quiet quitting bisa dilihat dari sudut pandang berbeda karena sikap ini bisa menjaga kesehatan mental. Namun di sisi lain, hal ini dapat dianggap sebagai penurunan kinerja dan profesionalitas dalam bekerja.

Kunci utamanya adalah membentuk budaya kerja yang sehat untuk menciptakan kenyamanan dan kesejahteraan bagi karyawan. Dengan ini, tanggung jawab dijalankan secara profesional, kualitas kinerja meningkat, dan perusahaan juga semakin berkembang.

Rekomendasi Berita