Peran Keluarga dalam Mendampingi Anak Pejuang Kanker
- 02 Mar 2026 11:02 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Perjuangan anak melawan kanker bukan hanya soal pengobatan medis, tetapi juga tentang dukungan emosional dari keluarga dan lingkungan sekitar. Pendampingan yang tepat dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga semangat serta kesehatan mental anak selama menjalani proses pengobatan yang panjang.
Hal tersebut disampaikan dalam acara Rahajeng Bali bersama Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Provinsi Bali yang menghadirkan dokter spesialis anak konsultan onkologi RSU Prima Medika Denpasar, dr. Ketut Aryawati, Sp.A ( K ), serta Komisioner KPAD Bali, Lilik Ismunartono Santoso, S.Sn., S.Pd pada Jumat, 27 Februari 2026. Diskusi ini menyoroti bahwa anak pejuang kanker tetap membutuhkan kehidupan sosial yang sehat layaknya anak lain.
Menurut dr. Ketut Aryawati, Sp.A ( K ) dampak kanker pada anak tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga psikologis, terutama pada anak usia sekolah hingga remaja. Pada fase ini, anak sudah mampu memahami kondisi dirinya sehingga rentan merasa takut, berbeda, bahkan minder terhadap lingkungan sosialnya.
Karena itu, pendekatan komunikasi menjadi kunci penting dalam pendampingan. Tenaga medis tidak hanya fokus pada terapi, tetapi juga membangun kepercayaan anak dengan menjelaskan kondisi penyakit menggunakan bahasa yang mudah dipahami. Anak diajak berdiskusi mengenai proses pengobatan agar tidak merasa sendirian menghadapi situasi tersebut.
“Anak perlu dilibatkan supaya mereka memahami apa yang terjadi pada tubuhnya. Ketika anak percaya kepada dokter dan keluarga, mereka cenderung lebih kuat secara mental dan tidak mudah menyerah dalam menjalani terapi,” tegasnya.
Selain peran tenaga medis, keluarga disebut sebagai sistem pendukung utama. Orang tua diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara melindungi dan memberi ruang bagi anak untuk tetap merasa normal. Sikap terlalu menutupi informasi justru dapat memicu kecemasan karena anak akan mencari jawaban sendiri melalui informasi yang belum tentu benar.
Komisioner KPAD Provinsi Bali, Lilik Ismunartono menambahkan bahwa anak pejuang kanker tetap memiliki hak yang sama, termasuk hak pendidikan, bermain, dan berinteraksi sosial. Lingkungan sekolah dan masyarakat diharapkan mampu menciptakan suasana yang inklusif agar anak tidak merasa dikucilkan selama masa pengobatan.
Dukungan sosial juga dapat hadir melalui komunitas pendamping yang mempertemukan anak dan keluarga dengan pengalaman serupa. Kehadiran komunitas dinilai membantu membangun rasa percaya diri sekaligus mengurangi tekanan psikologis yang sering dialami keluarga.
Melalui edukasi yang berkelanjutan, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa kanker pada anak bukanlah akhir dari segalanya. Dengan deteksi dini, pengobatan yang tepat, serta dukungan keluarga dan lingkungan, peluang kesembuhan tetap terbuka lebar.
Pendampingan penuh empati menjadi pengingat bahwa dalam perjuangan melawan kanker, anak tidak pernah berjalan sendiri. Dukungan sederhana dari orang terdekat dapat menjadi kekuatan besar yang membantu mereka tetap optimistis menatap masa depan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....