Jejak Konversi Energi Gas Elpiji di Dapur Nusantara
- 14 Feb 2026 17:27 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Tabung gas Elpiji kini menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian rumah tangga di Indonesia. Namun, perjalanan komoditas ini untuk menggantikan dominasi minyak tanah merupakan sebuah cerita panjang tentang inovasi teknologi dan keberanian kebijakan ekonomi nasional.
Secara historis, teknologi pencairan gas tidak ditemukan di Indonesia. Merujuk pada catatan literatur global, Liquefied Petroleum Gas atau LPG pertama kali diidentifikasi oleh ilmuwan Amerika Serikat, Dr. Walter Snelling, pada tahun 1910. Penemuan ini bermula dari pengamatan Snelling terhadap penguapan bensin yang bisa diubah menjadi bahan bakar cair yang praktis jika disimpan di bawah tekanan.
Pada tahun 1912, penggunaan LPG mulai diperkenalkan secara komersial untuk kebutuhan memasak dan penerangan. Istilah "Elpiji" yang populer di telinga masyarakat Indonesia sebenarnya berasal dari pelafalan fonetik merek dagang milik Pertamina, yakni LPG, yang kemudian dibakukan menjadi identitas bahan bakar gas nasional.
Di tanah air, Pertamina mulai memproduksi LPG sejak tahun 1968. Pada masa awal kehadirannya, Elpiji dikategorikan sebagai barang mewah. Penggunanya terbatas pada kalangan ekonomi atas, hotel berbintang, dan industri besar.
Hingga medio 2000-an, mayoritas rakyat Indonesia masih setia menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakar utama. Namun, ketergantungan ini menjadi beban berat bagi anggaran negara akibat subsidi minyak tanah yang terus membengkak.
Perubahan besar terjadi pada tahun 2007. Pemerintah Indonesia melakukan langkah berani dengan meluncurkan Program Konversi Minyak Tanah ke LPG. Program yang dipelopori oleh Wakil Presiden saat itu, Jusuf Kalla, bertujuan untuk menciptakan energi yang lebih bersih, efisien, dan menekan beban subsidi APBN.
Pemerintah mendistribusikan jutaan paket kompor gas dan tabung ukuran 3 kilogram yang kemudian akrab disebut "Tabung Melon" secara cuma-cuma kepada masyarakat. Meskipun sempat diwarnai kekhawatiran terkait aspek keamanan, program ini tercatat sebagai salah satu konversi energi tercepat dan paling sukses di dunia yang mampu mengubah perilaku konsumsi energi sebuah bangsa dalam waktu singkat.
Memasuki tahun 2026, sejarah Elpiji terus berlanjut. Meski tabung melon masih menjadi andalan, arah kebijakan kini mulai bergeser ke pembangunan jaringan gas pipa (Jargas) dan penggunaan kompor induksi. Sejarah mencatat bahwa transformasi dari minyak tanah ke Elpiji bukan sekadar urusan dapur, melainkan simbol modernisasi energi nasional Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....