Hipnoterapi Sebagai Alternatif Pemulihan Trauma Anak Korban Kekerasan
- 06 Feb 2026 17:37 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Kekerasan pada anak kerap diidentikkan dengan luka fisik, memar atau bekas pukulan. Padahal, di balik tubuh yang tampak baik-baik saja, banyak anak menyimpan luka batin yang tak kasat mata dan membekas hingga dewasa.
Isu ini mengemuka dalam Program Rahajeng Bali bertajuk “Luka yang Tak Terlihat: Kesehatan Mental Anak Korban Kekerasan” pada Jumat, 6 Februari 2026. Hadir sebagai narasumber Komisioner KPAD Provinsi Bali Lilik Ismunartono Santoso, Kepala UPTD PPA Provinsi Bali Luh Hety Vironika, serta hipnoterapis I Nyoman Sudiasa.
Menurut Lilik, kekerasan terhadap anak tidak selalu terjadi di ruang publik. Rumah, yang seharusnya menjadi tempat paling aman, justru kerap menjadi ruang pertama terjadinya tekanan psikologis. Bentuknya bisa berupa kata-kata merendahkan, label negatif hingga konflik orang tua yang disaksikan anak setiap hari. “Luka fisik mungkin bisa sembuh, tapi luka mental sering kali tidak terdeteksi, dan baru muncul bertahun-tahun kemudian,” tegas Lilik.
Hety Vironika menambahkan, banyak kasus kekerasan tidak dilaporkan karena masih dianggap sebagai aib keluarga. Akibatnya, anak-anak belajar memendam rasa takut dan trauma sendirian. Padahal, memutus siklus kekerasan membutuhkan keberanian untuk berbicara dan dukungan lingkungan yang aman.
Dalam konteks pemulihan, hipnoterapi mulai dilirik sebagai salah satu pendekatan alternatif. Hipnoterapis I Nyoman Sudiasa menjelaskan bahwa trauma tersimpan di alam bawah sadar dan tidak bisa begitu saja dihapus. Namun, melalui hipnoterapi, intensitas rasa sakit akibat pengalaman traumatis dapat dikurangi. “Yang kami lakukan bukan menghapus memori, tetapi membantu anak membingkai ulang pengalaman pahitnya agar tidak lagi melumpuhkan hidupnya,” jelas Sudiasa.
Ia menekankan bahwa hipnoterapi bukan sekadar soal teknik, melainkan proses pendampingan yang tetap harus berjalan seiring dengan perlindungan hukum, dukungan keluarga, dan lingkungan yang sehat.
Para narasumber sepakat, pencegahan tetap menjadi kunci utama. Kesadaran orang tua, komunikasi yang empatik, serta keberanian masyarakat untuk tidak lagi menormalisasi kekerasan menjadi fondasi penting dalam menjaga kesehatan mental anak. Karena pada akhirnya, luka yang tak terlihat sering kali justru paling dalam dan pemulihannya membutuhkan perhatian bersama, bukan keheningan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....