Mengenal Istilah Peter Pan Syndrome
- 06 Feb 2026 11:16 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Seiring bertambahnya usia, seseorang umumnya diharapkan menunjukkan kedewasaan dalam bersikap, mengelola emosi, serta memikul tanggung jawab. Namun, pada sebagian orang, proses pendewasaan ini tidak berjalan mulus. Kondisi tersebut kerap disebut sebagai Peter Pan syndrome.
Peter Pan syndrome merupakan istilah psikologis yang digunakan untuk menggambarkan orang dewasa yang mengalami kesulitan bersikap dewasa. Istilah ini diambil dari tokoh fiksi Peter Pan yang digambarkan enggan tumbuh dewasa dan hidup dalam dunia kekanak-kanakan.
Dilansir dari Cleveland Clinic, Peter Pan syndrome bukanlah diagnosis medis resmi. Meski demikian, istilah ini digunakan untuk membantu menjelaskan pola perilaku tertentu yang sering muncul dan berulang pada sebagian orang dewasa.
Orang yang mengalami Peter Pan syndrome umumnya menunjukkan sikap kekanak-kanakan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka cenderung menghindari tanggung jawab, sulit berkomitmen, serta tidak memiliki arah hidup yang jelas. Kondisi ini dapat berdampak pada berbagai aspek kehidupan, mulai dari hubungan personal hingga karier.
Dalam dunia kerja, individu dengan Peter Pan syndrome sering kali kesulitan mempertahankan pekerjaan, tidak konsisten, atau enggan menerima tanggung jawab lebih besar. Sementara dalam hubungan personal, perilaku ini dapat terlihat dari ketidakmampuan membangun komitmen jangka panjang.
Meski bukan gangguan klinis, Peter Pan syndrome memiliki kemiripan dengan gangguan kepribadian narsistik, terutama dalam hal kecenderungan menghindari tanggung jawab. Namun, terdapat perbedaan mendasar. Individu dengan Peter Pan syndrome umumnya tidak menunjukkan rasa superior berlebihan atau perilaku agresif, melainkan lebih memilih menghindari konflik.
Salah satu ciri utama Peter Pan syndrome adalah rendahnya toleransi terhadap tekanan emosional. Perasaan seperti cemas, sedih, atau menerima kritik sering kali dianggap terlalu berat untuk dihadapi. Akibatnya, mereka memilih menghindari situasi yang memicu ketidaknyamanan emosional.
Jika dibiarkan, pola perilaku ini dapat merusak hubungan dengan pasangan, keluarga, maupun rekan kerja. Orang-orang di sekitarnya kerap merasa terbebani karena harus menanggung tanggung jawab yang seharusnya dipikul bersama.
Meski demikian, tidak semua perilaku kekanak-kanakan selalu menjadi masalah. Namun, ketika sudah mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari, bantuan profesional dapat menjadi langkah penting. Terapi psikologis dinilai mampu membantu meningkatkan kesadaran diri serta kemampuan menghadapi emosi yang tidak nyaman. Sayangnya, banyak individu dengan Peter Pan syndrome baru mencari bantuan setelah mendapatkan dorongan dari orang-orang terdekat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....