Sampo: Dari Pijatan Tradisional hingga Formula Kimia Modern
- 28 Jan 2026 18:04 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Mencuci rambut kini menjadi rutinitas harian yang sederhana, namun sejarah sampo mencatat perjalanan panjang yang melibatkan pertukaran budaya global. Sebelum menjadi cairan dalam kemasan botol plastik, sampo bermula dari ramuan herbal tradisional yang berfungsi tidak hanya untuk membersihkan, tetapi juga sebagai metode terapi kesehatan.
Istilah sampo berasal dari kata Sanskerta chāmpo, yang berarti memijat atau menekan. Berdasarkan catatan sejarah dari Britannica, praktik ini populer di wilayah India sejak era Kekaisaran Mughal. Masyarakat saat itu menggunakan rebusan buah sapindus (lerak) yang dicampur dengan bunga kering dan ramuan herbal lainnya. Campuran ini menghasilkan busa alami (saponin) yang efektif mengangkat kotoran serta memberikan aroma segar pada rambut.
Sampo diperkenalkan ke dunia Barat oleh seorang pengusaha India bernama Sake Dean Mahomed. Menurut arsip The British Library, Mahomed membuka tempat pemandian uap yang dikenal sebagai "Mahomed's Indian Vapour Baths" di Brighton, Inggris, pada tahun 1814. Ia memperkenalkan teknik shampooing (pijat kepala terapeutik) kepada bangsawan Inggris, termasuk Raja George IV. Di era ini, sampo masih berbentuk sabun padat yang diparut dan direbus dalam air yang dicampur herbal.
Kelemahan sampo berbahan dasar sabun tradisional adalah meninggalkan residu lengket dan membuat rambut terasa kasar. Mengutip informasi dari Smithsonian Magazine, revolusi terjadi pada tahun 1927 ketika Hans Schwarzkopf dari Jerman menciptakan sampo cair pertama di Eropa. Namun, terobosan besar lahir pada tahun 1930-an dengan penemuan "Drene", sampo pertama yang menggunakan surfaktan sintetis (bukan sabun). Berdasarkan data dari American Chemical Society (ACS), penggunaan deterjen sintetis ini memungkinkan sampo bekerja efektif bahkan di air yang mengandung mineral tinggi tanpa meninggalkan sisa kerak.
Secara medis, sampo modern dirancang untuk membersihkan sebum (minyak alami) berlebih. Melansir dari Healthline, surfaktan dalam sampo berfungsi sebagai pengemulsi yang mengikat lemak dan kotoran agar dapat dibilas dengan air. Pakar kesehatan dari Cleveland Clinic menekankan pentingnya memilih sampo dengan pH seimbang (sekitar 4.5 hingga 5.5) untuk menjaga kesehatan kutikula rambut dan mencegah iritasi kulit kepala.
Sejarah sampo adalah bukti bagaimana inovasi kimia dapat menyederhanakan tradisi kuno yang rumit. Dari praktik pijat tradisional di India hingga formula canggih di laboratorium modern, sampo telah berevolusi menjadi kebutuhan primer untuk manusia. Sampo tetap menjadi salah satu contoh terbaik bagaimana kearifan lokal dapat diadopsi dan disempurnakan oleh sains global demi kesehatan masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....