Menjaga Tradisi Tanpa Membebani Generasi Produktif
- 27 Jan 2026 21:47 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar- Di tengah derasnya arus modernisasi, tradisi ngayah di Bali masih menjadi denyut utama kehidupan adat dan keagamaan. Ngayah bukan sekadar kerja sukarela, melainkan wujud pengabdian spiritual dan sosial yang diwariskan lintas generasi. Namun, perubahan zaman menghadirkan tantangan baru, terutama bagi generasi produktif yang harus membagi waktu antara kewajiban adat dan tuntutan ekonomi.
Penyuluh Agama Hindu, Dr. I Nyoman Arya, S.Ag., M.Pd.H., dalam Program Acara Rahajeng Bali pada Selasa, 27 Januari 2026, menekankan pentingnya rekonstruksi sistem ngayah agar tetap relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Menurutnya, mempertahankan tradisi tidak harus berarti membebani generasi muda yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan hidup, bekerja di sektor formal, atau merantau ke luar daerah.
Selama ini, sistem ngayah kerap dipersepsikan kaku, dengan sanksi adat yang justru menimbulkan dilema sosial. Tidak sedikit pekerja yang terpaksa mengambil cuti panjang atau bahkan kehilangan pekerjaan karena kewajiban adat yang menyita waktu. Kondisi ini, jika dibiarkan, berpotensi melemahkan kesejahteraan keluarga dan mempersempit peluang ekonomi masyarakat desa adat.
Sebagai solusi, Dr. Nyoman Arya mendorong adanya pendekatan yang lebih fleksibel dan berkeadilan. Salah satunya melalui profesionalisasi peran tertentu dalam upacara adat, di mana warga yang tidak dapat hadir karena pekerjaan tetap bisa berkontribusi melalui dukungan finansial, sementara pelaksanaan teknis dilakukan oleh tenaga yang memiliki keahlian khusus. Dengan cara ini, adat tetap berjalan, tradisi terjaga, dan generasi produktif tidak merasa terhimpit.
Menjaga tradisi sejatinya bukan soal mempertahankan bentuk lama secara utuh, melainkan merawat nilai-nilai dasarnya: kebersamaan, tanggung jawab, dan rasa saling menghargai. Di era modern, dialog dan kesepakatan bersama menjadi kunci agar adat dan kehidupan ekonomi dapat berjalan beriringan, tanpa saling meniadakan. Tradisi pun tetap hidup, bukan sebagai beban, tetapi sebagai identitas yang memberi makna.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....