Ngayah: Pelestarian Tradisi dan Tuntutan Ekonomi
- 27 Jan 2026 21:40 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar- Tradisi ngayah telah lama menjadi denyut kehidupan masyarakat Bali. Semangat gotong royong dan pengabdian tanpa pamrih ini bukan hanya bagian dari adat, tetapi juga cerminan nilai spiritual dalam ajaran Hindu. Namun, di tengah perubahan zaman dan tuntutan ekonomi modern, praktik ngayah menghadapi tantangan yang makin kompleks.
Hal tersebut dibahas dalam Program Acara Rahajeng Bali bertema Rekonstruksi Sistem Ngayah Kaitannya dengan Upacara Agama di Era Modern pada Selasa, 27 Januari 2026. Penyuluh Agama Hindu, Dr. I Nyoman Arya, S.Ag., M.Pd.H menyebut bagaimana sistem ngayah perlu ditata ulang agar tetap relevan tanpa menggerus nilai dasarnya.
Menurut Dr. Nyoman Arya, perubahan adalah keniscayaan. Rekonstruksi tidak dimaksudkan untuk menghilangkan tradisi, melainkan menyesuaikannya dengan realitas kehidupan masyarakat saat ini. Ia mencontohkan dilema yang kerap dihadapi pekerja yang terikat jam kerja, namun tetap memiliki kewajiban adat. Kondisi ini tak jarang menimbulkan kekhawatiran di dunia kerja, bahkan berujung pada stigma bahwa pekerja Bali dianggap terlalu sering mengambil izin karena kegiatan adat.
“Kalau kita hanya mempertahankan pola lama tanpa evaluasi, yang muncul justru masalah baru. Kita perlu mulat sarira, berintrospeksi, agar tradisi tetap berjalan dan kehidupan ekonomi masyarakat juga terjamin,” ujar Arya.
Salah satu gagasan yang mengemuka adalah penerapan sistem profesional dalam pelaksanaan ngayah, terutama pada upacara besar. Warga yang memiliki keahlian tertentu dapat dilibatkan secara profesional dan diberikan penghargaan atau upah yang layak, sehingga roda adat tetap berjalan tanpa mengorbankan mata pencaharian.
Rekonstruksi ini juga dinilai penting untuk mengurangi beban psikologis masyarakat. Di era modern, kebutuhan hidup seperti pangan, tempat tinggal, keamanan masa depan, hingga aktualisasi diri menjadi hal yang tidak bisa diabaikan. Tradisi diharapkan hadir sebagai penopang kehidupan, bukan sebagai tekanan sosial.
Ngayah, pada akhirnya, tetaplah wujud pengabdian dan kebersamaan. Namun, dengan penyesuaian yang bijak, tradisi luhur ini dapat terus lestari seiring dengan berkembangnya zaman, tanpa meninggalkan kesejahteraan masyarakat yang menjalaninya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....