Kesabaran sebagai Kekuatan di Tengah Zaman Serba Cepat

  • 24 Jan 2026 21:07 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar- Zaman modern bergerak dengan kecepatan yang nyaris tak memberi jeda. Segala sesuatu dituntut serba cepat: karier harus segera menanjak, usaha harus lekas berkembang, pernikahan diharapkan cepat berbuah hasil, dan kesuksesan seolah harus diraih tanpa menunggu proses. Dalam arus kehidupan yang serba instan ini, kesabaran kerap dianggap sebagai kelemahan. Padahal, dalam ajaran Hindu, kesabaran justru dipandang sebagai kekuatan sejati.

Hal tersebut disampaikan dalam Acara Mimbar Agama Hindu bertajuk “Sabar Itu Indah” yang disampaikan oleh Penyuluh Agama Hindu, I Wayan Winaja pada 17 Desember 2025 lalu. Dalam acara tersebut ditegaskan bahwa dinamika kehidupan memang tak terlepas dari berbagai persoalan, namun manusia diajak untuk tetap sabar dan bersyukur dalam menghadapinya.

Budaya modern, menurut pemaparan tersebut, secara tidak sadar melatih manusia untuk selalu berkompetisi menjadi yang paling cepat. Kecepatan sering kali diidentikkan dengan keberhasilan dan pujian sosial. Akibatnya, banyak orang terjebak pada pola hidup terburu-buru: baru bekerja sudah memikirkan jabatan, baru berumah tangga sudah dikejar target, dan baru memulai usaha sudah ingin hasil berlipat ganda.

Tidak ada yang keliru dengan semangat berusaha. Namun ketika manusia larut dalam kecepatan tanpa kesadaran, proses hidup menjadi gersang dan kehilangan makna. Tahapan demi tahapan kehidupan dilalui tanpa sempat direnungi. Inilah yang dalam kearifan orang tua disebut sebagai perjalanan yang terburu-buru, bahkan memilih “jalan pintas” yang pada akhirnya justru melelahkan batin.

Dalam ajaran Hindu, Kesabaran atau Ksama dipandang sebagai nilai luhur yang menuntun manusia menuju kedamaian batin. Kesabaran bukan sekadar menahan amarah, melainkan kemampuan menerima suka dan duka dengan lapang hati, tanpa kehilangan semangat untuk tetap berjalan di atas jalan dharma. Hal ini sejalan dengan ajaran Bhagawad Gita yang menekankan penerimaan atas dualitas hidup, panas dan dingin, menang dan kalah, tanpa terikat oleh penderitaan maupun euforia berlebihan.

Kesabaran juga tercermin dalam cara seseorang bertutur kata dan bersikap. Orang yang sabar cenderung menjaga ucapannya, berbicara dengan intonasi yang menenangkan, serta tidak menyakiti hati orang lain. Sikap ini membuatnya lebih mudah diterima dalam kehidupan sosial dan menciptakan keharmonisan dalam hubungan antarmanusia.

Ajaran Hindu menegaskan bahwa kesabaran tidak lahir secara instan. Ia perlu dilatih melalui pengendalian pikiran, ucapan, dan perbuatan. Praktik spiritual, pemahaman tatwa dan susila, serta pengurangan keterikatan berlebihan pada hal-hal duniawi menjadi jalan untuk menumbuhkan sifat sabar dan satwika dalam diri.

Di tengah tekanan hidup modern yang serba cepat dan kompetitif, ajaran ini menjadi pengingat bahwa kekuatan sejati tidak selalu tampak dalam kecepatan atau ambisi, melainkan dalam kemampuan menahan diri, memahami proses, dan menjalani hidup dengan kesadaran. Kesabaran bukanlah tanda kelemahan, melainkan kekuatan jiwa yang menjaga manusia tetap teguh, tenang, dan bermakna di tengah arus zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....