Mencari Rezeki dengan Benar Demi Keseimbangan Hidup
- 24 Jan 2026 17:54 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar- Di tengah tuntutan hidup yang semakin cepat dan kompetitif, mencari rezeki sering kali menjadi fokus utama banyak orang. Bekerja keras, mengejar penghasilan, dan memenuhi kebutuhan hidup dianggap sebagai ukuran keberhasilan. Namun, di balik kesibukan tersebut, tidak sedikit yang justru merasa lelah, gelisah, dan kehilangan ketenangan batin.
Hal ini disampaikan dalam Acara Tanya Jawab Agama Hindu oleh Penyuluh Agama Hindu, Mardiasni dan Nurhayati belum lama ini. Persoalan ini dibahas melalui sudut pandang ajaran keseimbangan hidup. Disampaikan bahwa rezeki atau Artha memang menjadi bagian penting dalam kehidupan, tetapi cara memperolehnya dan cara mengelolanya sangat menentukan keseimbangan hidup seseorang.
Ajaran Hindu mengenal Catur Purusa Artha, empat tujuan hidup yang saling berkaitan, yakni Dharma, Artha, Kama, dan Moksa. Dalam dialog tersebut ditegaskan bahwa Dharma harus menjadi landasan utama dalam mencari rezeki. Dharma dimaknai sebagai kebenaran, etika, dan kebajikan yang menjadi fondasi perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari.
"Rezeki yang diperoleh tanpa dharma, seperti melalui cara menipu, suap, atau merugikan orang lain, justru berpotensi menimbulkan kegelisahan dan ketidakseimbangan hidup. Sebaliknya, ketika artha dicari melalui jalan yang benar dan dilandasi niat baik, rezeki tidak hanya mencukupi kebutuhan lahiriah, tetapi juga menghadirkan ketenangan batin," ujar Mardiasni.
Dalam dialog tersebut juga diungkapkan fenomena yang sering dirasakan masyarakat modern: bekerja keras namun rezeki terasa cepat habis dan sulit dinikmati. Hal ini dikaitkan dengan kurangnya kesadaran dalam mengelola arta secara seimbang. Ajaran Sarasamuscaya menekankan bahwa penghasilan sebaiknya dibagi secara bijak, sebagian untuk menjalankan dharma seperti dana punia dan membantu sesama, sebagian untuk memenuhi kebutuhan hidup yang wajar, serta sebagian lagi untuk tabungan dan persiapan masa depan.
Pembagian ini bukan semata soal manajemen keuangan, melainkan bagian dari upaya menjaga keseimbangan hidup. Dengan cara tersebut, rezeki tidak hanya habis untuk memenuhi keinginan, tetapi juga memberi makna dan manfaat yang lebih luas.
Selain itu, menikmati hasil kerja atau Kama juga perlu dikendalikan. Menikmati hidup bukan berarti berlebihan atau memaksakan keinginan. Ketika keinginan lebih dominan daripada kebutuhan, manusia justru merasa terbebani oleh ambisinya sendiri. Pengendalian diri dan rasa syukur menjadi kunci agar artha dan kama berjalan seimbang.
Dialog tersebut menegaskan bahwa mencari rezeki secara benar bukan hanya tentang jumlah penghasilan, tetapi tentang bagaimana rezeki itu diperoleh, dikelola, dan dimanfaatkan. Dengan menjadikan dharma sebagai pedoman, artha sebagai sarana, dan kama sebagai kenikmatan yang terkendali, manusia dapat melangkah menuju keseimbangan hidup dan ketenangan batin.
Pada akhirnya, keseimbangan hidup tidak lahir dari seberapa besar rezeki yang dimiliki, melainkan dari kemampuan manusia menjalani hidup dengan etika, kesadaran, dan rasa syukur di tengah kesibukan duniawi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....