Strategi Membangun Komunikasi Harmonis di Keluarga
- 02 Des 2024 12:01 WIB
- Denpasar
KBRN, Denpasar : Untuk dapat membangun komunikasi yang harmonis di lingkungan keluarga ada beberapa strategi yang bisa diterapkan dan dibudayakan dalam kehidupan sehari – hari. Strategi yang pertama tentu harus mau menyediakan atau meluangkan waktu bersama, dalam hal ini waktu yang berkualitas. Demikian disampaikan oleh Psikiater Fakultas Kedokteran Universitas Udayana , Dr.dr.Cok Bagus Jaya Lesmana,SP.KJ., Mars, ketika berbincang dalam Program acara Dialog Interaktif bersama Suryani Institute For Mental Health, Jum'at 29 Nopember 2024
dr.Cok Bagus menambahkan banyak keluarga yang mengatasnamakan kesibukan,akhirnya mengabaikan waktu luang untuk berkomunikasi, baik dengan pasangan ataupun dengan anak – anak. Meluangkan waktu bersama tentunya bukan waktu yang dipaksakan melainkan waktu yang berkualitas ( quality time), dalam hal ini menyediakan waktu khusus untuk berbicara secara mendalam dengan seluruh anggota keluarga.
“ketika selalu mengatasnamakan kesibukan otomatis kita akan mendiskreditkan yang lain termasuk quality time ini. Ketika mau meluangkan waktu yang berkualitas untuk berkomunikasi satu dengan yang lainnya di keluarga paling tidak 30 menit saja sehari, itu dikatakan sudah bisa meningkatkan 20 persen keharmonisan dalam keluarga. Apalagi kalau kita bisa meluangkan waktu lebih dari 30 menit” ujar dr.Cok Bagus.
Selain dengan meluangkan waktu berlualitas, strategi lain yang bisa diterapkan yaitu menggunakan bahasa yang positif. Menurut dr.Cok Bagus terkadang dalam berkomunikasi terkait masalah tertentu di keluarga, karena emosi bahasa yang disampaikan menjadi kurang positif. Dengan demikian pengendalian diri juga penting dalam membangun komunikasi, terlebih dalam kearifan lokal Bali penerapan Tri Kaya Parisudha penting dibudayakan terkait bagaimana berpikir, berkata, dan berbuat dalam kehidupan keluarga. Jika dalam berkomunikasi di keluarga bisa menggunakan bahasa yang positif maka otomatis akan terjalin komunikasi yang baik dan harmonis.
Diungkapkan dr.Cok Bagus dalam berkomunikasi juga diperlukan strategi empati, memahami satu dengan yang lainnya. Menurutnya jika apa yang disampaikan oleh komunikator mau didengarkan secara aktif oleh komunikan tentu akan tercipta komunikasi dua arah. Tetapi jika yang mendengarkan fokus pada hal lain misalnya sambil bermain handphone maka akan tercipta suasana komunikasi yang tidak nyaman, tidak harmonis.
dr.Cok Bagus menjelaskan bahwa dalam membangun komunikasi yang harmonis di keluarga orang tua hendaknya menunjukkan kepedulian kepada anggota keluarga terutama kepada anak - anak. Ketika anak – anak bercerita orang tua memposisikan diri menjadi pendengar yang baik. Jika orang tua tidak menunjukkan kepedulian dengan mendengarkan cerita anak, akhirnya akan muncul keengganan anak untuk membahasakan permasalahan mereka, sehingga komunikasi yang harmonis pun tidak akan terbangun.
“pada dasarnya kita sebagai manusia ingin didengarkan. Sudah ada yang mendengarkan saja rasanya beban kehidupan sudah berkurang sekian puluh persen. Membuka pembicaraan dengan pertanyaan terbuka seperti " bagaimana perasaan kamu hari ini", atau bagaimana kegiatan di sekolah? Dengan pertanyaan terbuka, artinya komunikasi yang efektif dan harmonis itu sudah kita mulai” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....