Pedoman Pengambilan Keputusan Berlandaskan Etik
- 09 Okt 2024 13:11 WIB
- Denpasar
KBRN,Denpasar: “Orang tanpa etika adalah hewan buas yang terlepas ke dunia,” Abert Camus.
Pernyataan filsuf asal Perancis tadi menegaskan bahwa orang atau organisasi yang berperilaku atau bertindak tanpa etika akan berdampak destruktif kepada orang lain, masyarakat dan atau lingkungan.
Secara linguistik, kata "etika" berasal dari kata Yunani ethos, yang berarti timbul dari kebiasaan.
Secara spesifik pengertian etika adalah ilmu tentang sikap dan kesusilaan individu dalam suatu lingkungan sosial, yang penuh dengan aturan dan prinsip tentang apa yang dianggap sebagai perilaku yang benar.
Secara umum pengertian etika adalah aturan, norma, kaidah, atau prosedur yang biasa digunakan individu sebagai pedoman atau prinsip dalam melakukan perbuatan dan perilakunya.
Penerapan norma ini erat kaitannya dengan baik buruknya seorang individu dalam masyarakat.
Dalam hal berhubungan dengan perusahaan,perusahaan etis dan sukses konon dapat ditandai dengan empat prisip yakni, dalam hubunganya dengan pelanggan, penjual dan lainnya.
Selanjutnya pekerja memikul tanggungjawab atas tindakan perusahaan.
Berikutnya perusahaan memiliki tujuan atau visi yang dihargai karyawan dan dijalankan dalam pekerjaan sehari-hari.
Dan yang terakhir perusahaan menekankan fairness atau kepentingan orang lain dianggap sama berharganya dengan kepentingan sendiri.
Sedangkan mengenai mengevaluasi etika pendekatan tertentu terhadap keputusan sangat bijak, menggunakan pedoman yang dikembangkan oleh Centre for Business Ethics di Universitas Bentley.
Universitas ini termasuk dalam universitas berperingkat 30 pada sekolah terbaik versi Business Week, memberikan panduan dalam hal mengambil keputusan dengan menjawab beberapa pertanyaan berikut ini.
1. Apakah keputusan ini benar? Pertanyaan ini didasarkan pada teori etika deontologik bahwa ada prinsip yang memandu yang diterima secara universal mengenai kebaikan dan kesalahan.
2. Apakah keputusan ini adil? Pertanyaan ini didasarkan pada teori deontologik mengenai keadilan bahwa tindakan tertentu secara fitrah adil atau tidak adil.
3. Siapa yang tersakiti? Pertanyaan ini didasarkan pada konsep utilitarian yang berusaha melakukan kebaikan terbesar untuk jumlah orang terbanyak.
4. Apakah anda nyaman jika keputusan atau tindakan diberitahukan ke publik melalui media atau e-mail?. Pertanyaan ini didasarkan pada prinsip universal keterbukaan atau transparansi.
5. Apa yang akan anda minta anak, saudara, atau kerabat muda anda lakukan? Pertanyaan ini didasarkan pada prinsip deontologik keterbalikan yang mengevalusai etika keputusan dengan membalikkan pembuatan keputusan.
6. Bagaimana aromanya? Pertanyaan ini berdasarkan pada intuisi dan akal sehat seseorang. Misalnya hal yang dilakukan seseorang nampak bagus atau hebat dengan mencuri saran inovatif orang lain, hal tersebut akan beraroma tidak sedap bagi orang yang berakal sehat.
Itulah beberapa pertimbangan melalui pertanyaan dalam mengambil keputusan yang berlandaskan etik sehingga semua memberikan manfaat bagi semua pihak.
(Sumber: Berbagai Sumber)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....