Kenali Jenis dan Makna Kain Poleng di Bali
- 27 Sep 2024 06:06 WIB
- Denpasar
KBRN, Denpasar : Saput ( Kain) Poleng di Bali mempunyai peranan penting dalam setiap pelaksanaan ritual ( yadnya) maupun di luar konteks keagamaan Hindu di Bali. Kain Poleng adalah kain dengan motif kotak – kotak hitam dan putih yang memiliki makna simbolis yang mendalam.
Agama Hindu adalah Agama Simbol, karena segala sesuatu yang berkaitan dengan keyakinan atau Ketuhanan seringkali menggunakan simbol – simbol tertentu. Seperti dalam membuat banten ( upakara yajna) ada yang berbentuk bulat, segitiga dan sebagainya. Dari simbol warna yang paling sering bahkan menjadi icon atau ciri khas Bali yaitu warna kotak – kotak hitam dan putih yang disebut “ Poleng”.
Hal tersebut disampaikan oleh Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kota Denpasar, Ida Bagus Gede Bawa Adnyana, dalam program acara Surya Puja di Programa 4 RRI Denpasar, Kamis, 26 September 2024.
“ Dalam penggunaan kain poleng tersebut, yang pertama kain poleng tersebut diimplementasikan sebagai ajaran Tri Hita Karana ( tiga penyebab kesejahteraan ), yang bersumber dari keharmonisan. Nah keharmonisan yang dimaksud disini yaitu harmonis dengan Tuhan ( Parhyangan), harmonis dengan sesama manusia ( Pawongan), dan harmonis dengan lingkungan ( Palemahan)” ujarnya.
Bawa Adnyana menjelaskan jika dikategorikan terdapat tiga jenis motif kain poleng yang dianggap sakral dan digunakan dalam ritual umat Hindu di Bali.
1. Sebagai Simbol Rwa Bhineda, kain poleng ini biasanya bermotif kotak - kotak hitam dan putih. Motif tersebut memiliki makna jika di dunia wajar terdapat dua hal yang berbeda (Rwa Bhineda) tetapi jika berjalan dengan harmonis akan menciptakan sebuah keseimbangan alam.
Diharapkan dengan keseimbanngan alam akan tercipta kehidupan yang sejahtera. Biasanya kain poleng Rwa Bhineda ini banyak digunakan di patung – patung, kulkul dan pohon – pohon yang dikeramatkan.
2. Kain poleng Sudamala, yang bermotif hitam, putih , dan abu – abu. Warna hitam dan putih sebagai simbol Rwa Bhineda sedangkan warna abu – abu sebagai simbol penyelarasan dari perbedaan dua warna ( hitam dan putih) tersebut.
3. Kain poleng Tridatu bermotif hitam, putih, dan merah. Ketiga warna tersebut merupakan simbol dari ajaran tiga sifat manusia yaitu “ Tri Guna “. Warna hitam menyimbolkan sifat malas atau penghambat, putih berarti bijaksana, dan warna merah yang berarti sifat tegas dan keras.
Motif kain poleng Tridatu tersebut digunakan sebagai seragam penjaga keamanan desa ( pecalang). Dengan kain tersebut diharapkan para pecalang memiliki kedewasaan intelektual untuk mengendalikan situasi keamanan, serta memiliki ketegasan dalam memilah mana yang baik dan mana yang buruk.
“Meskipun tidak bisa dipisahkan tetapi dua hal yang berbeda ( Rwa Bhineda), harus berjalan seimbang sesuai dengan makna dan filosofi kain poleng tersebut. Selain warna hitam dan putih terdapat juga warna merah apabila dikaitkan dengan Dewa Tri Murthi, hitam melambangkan Dewa Wisnu,putih melambangkan Dewa Siwa, dan merah melambangkan Dewa Brahma” tutup Bawa Anyana.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....