Efek Rumah Kaca: Menelisik Dampak Aktivitas Manusia Terhadap Pemanasan Global

  • 27 Mei 2026 11:42 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Pada kondisi alaminya, mekanisme gas rumah kaca di atmosfer bumi merupakan sistem yang krusial untuk menjaga stabilitas suhu permukaan. Stabilitas ini sangat penting untuk kelangsungan makhluk hidup.

Bagaimanapun, intervensi aktivitas manusia tanpa kendali lingkungan telah mendistorsi keseimbangan tersebut hingga memicu ancaman bencana global. Menebalnya lapisan gas rumah kaca (GRK) di atmosfer saat ini tidak terlepas dari kontribusi masif berbagai sektor antropogenik.

Di sektor energi, ketergantungan pada bahan bakar fosil dan batu bara untuk pasokan listrik menjadi penyumbang emisi terbesar. Sementara di sektor pertanian, penggunaan bahan kimia dan tata kelola irigasi sawah dengan sistem penggenangan turut memicu pelepasan gas berbahaya.

Sektor industri dan pengelolaan limbah domestik pun setali tiga uang dalam menyumbang emisi berbahaya. Aktivitas pabrik batu kapur serta praktik penimbunan sampah terbuka (open dumping) di TPA terus memproduksi emisi karbon dan metana secara akumulatif.

Hal-hal inilah yang mempercepat laju pemanasan global di bumi. Dalam dialog Morning Vibes yang disiarkan oleh Pro 2 RRI Denpasar pada Jumat 22 Mei 2026, Aan Ridho Firdaus Hambyah membeberkan detail permasalahan ini. Sosok yang menjabat sebagai Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) ini menjelaskan kondisi awal bumi yang sebenarnya seimbang.

“Kalau menjelaskan sedikit kondisi bumi sekarang, dulu gas rumah kaca itu sifatnya alami karena komposisinya seimbang. Mengapa sekarang malah bisa jadi sumber bencana? Salah satunya adalah karena aktivitas manusia,” ujar perwakilan dari KLHK tersebut.

Aan kemudian merinci kontribusi negatif dari berbagai sektor harian manusia yang memicu penumpukan gas. Mulai dari sektor energi, pertanian yang menggunakan bahan kimia, hingga emisi dari sektor industri berskala besar.

“Di sektor energi, ada penggunaan bahan bakar fosil dan penggunaan batu bara untuk pembangkit tenaga listrik. Kalau di pertanian, ada penggunaan bahan kimia dan sistem irigasi sawah melalui penggenangan air. Di sektor industri, misalnya pabrik batu kapur; batu kapur itu kan tempat penyimpanan CO2 yang sangat tinggi di ekosistem, jadi saat diolah karbonnya terlepas,” tambahnya.

Ia juga menyoroti masalah pengelolaan sampah domestik yang masih buruk. Praktik pembuangan yang tidak tepat di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) menjadi salah satu pemicu utama menumpuknya gas berbahaya di langit.

“Kemudian di sektor limbah, ada praktik open dumping atau penimbunan sampah yang tercampur di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), itu bisa memicu timbulnya gas metana (CH4) ke atmosfer. Itulah yang terakumulasi dan menumpuk,” ujar Aan.

Lebih lanjut, Aan memberikan gambaran mengenai bagaimana radiasi termal matahari akhirnya terjebak di dalam atmosfer bumi. Di udara, ia memaparkan mekanisme pelepasan panas bumi saat ini sudah terganggu secara drastis.

“Seharusnya, panas yang masuk ke bumi itu diserap sebagian oleh air yang ada di lautan dan permukaan tanah, lalu sebagian lagi dipantulkan kembali ke atmosfer. Namun, karena kondisi atmosfer saat ini sudah terlalu tebal oleh gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia, panas yang seharusnya bisa dilepaskan ke angkasa malah terperangkap di bumi,” jelasnya.

Untuk mempermudah pemahaman pendengar, ia menganalogi kondisi ekstrem bumi tersebut menyerupai ruangan yang tertutup kaca. Fenomena inilah yang pada akhirnya kita kenal sebagai efek rumah kaca globall.

“Itulah yang disebut efek rumah kaca. Terminologinya mirip ketika kita memposisikan diri di dalam sebuah ruang kaca; ada sinar matahari yang masuk, sehingga ruangan terasa jauh lebih panas daripada kondisi sebelumnya,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....