Museum Kebangkitan Nasional Berperan Bangun Kesadaran Bangsa
- 13 Sep 2024 16:02 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta: Museum Kebangkitan Nasional terus berperan penting dalam menjaga dan mengedukasi sejarah perjuangan bangsa Indonesia, terutama bagi generasi muda. Melalui koleksi dan narasi yang ada, museum ini berusaha membangkitkan kesadaran nasionalisme dengan menyoroti peran STOVIA, sekolah kedokteran pertama bagi pribumi yang menjadi saksi tumbuhnya kesadaran berbangsa di awal abad 20.
Pamong Budaya Ahli Muda di Museum Kebangkitan Nasional, Nur Khozin, menjelaskan, bahwa STOVIA, atau School tot Opleiding Van Inlandsche Artsen, didirikan pada 1 Maret 1902 di gedung baru yang kini menjadi bagian dari Museum Kebangkitan Nasional. Gedung ini awalnya difungsikan sebagai tempat pendidikan dan asrama bagi calon dokter Bumi Putra.
“Sekolah ini menjadi tempat berkumpulnya anak-anak muda dari berbagai wilayah, seperti Ambon, Manado, Padang, dan Jawa, yang pada awalnya belum memiliki kesadaran sebagai satu bangsa,” ujarnya kepada RRI di lokasi, Jum'at (13/9/2024)
Interaksi di asrama STOVIA menumbuhkan kesadaran untuk bersatu melawan penjajah, meskipun pada saat itu istilah ‘Indonesia’ belum ada. Kesadaran kebangsaan yang tumbuh di kalangan pelajar STOVIA menjadi cikal bakal lahirnya gerakan-gerakan pemuda di kemudian hari, seperti Sumpah Pemuda pada 1928.
Selain berfungsi sebagai sekolah kedokteran, STOVIA juga melahirkan aktor-aktor penting dalam pergerakan nasional, termasuk pendiri organisasi modern pertama Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908. “Para pelajar STOVIA mengedepankan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi, dan semangat ini yang coba kami wariskan kepada generasi muda saat ini,” ucap Nur Khozin.
Museum Kebangkitan Nasional juga membuka ruang publik bagi anak-anak muda untuk mengembangkan potensi dan kreatifitasnya. Setiap akhir pekan, museum ini menjadi saksi berbagai kegiatan budaya seperti tari dan musik, serta diskusi-diskusi yang melibatkan generasi muda.

Selain itu, museum ini berkomitmen untuk melestarikan kearifan lokal melalui koleksi-koleksinya, termasuk alat-alat kedokteran tradisional seperti pemotong plasenta dari bambu dan obat herbal kunyit, yang terbukti steril dan aman secara medis. “Konsep ini menunjukkan kesinambungan teknologi saat ini yang berkembang berdasarkan teknologi masa lalu,” tambah Nur Khozin.
Dalam hal ini ia memiliki harapan besar untuk terus menjadi tempat belajar dan beraktivitas bagi masyarakat, khususnya generasi muda. “Kami berharap museum ini dapat membangkitkan kesadaran akan perjuangan leluhur dan menginspirasi generasi muda untuk mempraktikkan nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari,” tutur Nur Khozin.
Museum Kebangkitan Nasional, sebagai salah satu cagar budaya penting, tidak hanya sekadar menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Indonesia tetapi juga menjadi ruang dinamis yang berperan aktif dalam menciptakan generasi yang menghargai dan meneruskan perjuangan kebangsaan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....