Rare Angon, Manifestasi Dewa Siwa

  • 27 Agt 2024 08:09 WIB
  •  Denpasar

KBRN Denpasar : Bagi masyarakat Hindu di Bali tentunya sudah tidak asing lagi yang bernama Rare Angon itu, bisa dikaitkan dengan anak-anak atau orang yang sedang melaksanakan permainan tradisional dengan melayangan. Selain itu juga Rare Angon itu dikaitkan juga dengan penjelmaan Dewa Siwa yang turun ke dunia menjelma sebagai seorang pengembala, yang kemudian disebut juga Rare Angon. Kemudian Rare Angon itu merupakan juga sebuah tempat atau simbol jika melaksanakan upacara tingkat besar, dalam tradisi umat Hindu di Bali disebut nyatur. Biasanya kalau sudah nyatur ini ada membuat pelinggih atau tempat pengayatan Rare Angon atau dalam upacara dikatakan Ngadegang Rare Angon. Di Bali orang-orang menyebut kegiatan menerbangkan layang-layangan sebagai melayangan, dan ini sangat erat kaitannya dengan kisah Rare Angon. Rare Angon dipercaya sebagai dewanya layang-layang dalam budaya Bali. Hal tersebut disampaikan oleh Ida Bagus Gede Bawa Adnyana, salah seorang penyuluh agama Hindu Kementerian Agama Kota Denpasar, dalam acara Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar, FM 106,4 MHz (Sabtu, 24 Agustus 2024).

Lebih lanjut dijelaskan, bahwa legenda mengatakan bahwa selama musim layang-layang atau setelah panen Rare Angon turun ke bumi. Dia membawa seruling yang ia mainkan untuk memanggil angina. “Hal ini symbol, kita lihat saat Ngadegang Rare Angon jika dilaksanakan upacara yang nyatur, biasanya patung Rare Angon itu disimbulkan seorang pengembala mengendarai lembu atau sapi dengan membawa seruling. Di Rare Angon itu juga dihias dengan layang-layang. Terlepas dari kisah mitos tersebut. menerbangkan layang-layang merupakan kegiatan yang sangat populer di kalangan petani dan anak gembala. Jika dulu dilakukan setelah panen, akan tetapi saat ini layang-layang ini festival, parade atau kegiatan layang-layang ini banyak dilakukan antara bulan Juni hingga Agustus. Karena musim angin sedang sangat bagus untuk menerbangkan layang-layang” jelas Adnyana.

Istilah Rare Angon dapat diartikan sebagai anak gembala. Hal ini dengan sempurna menggambarkan konteks budaya dimana tradisi berkembang, dengan anak-anak yang memainkan peran sebagai gembala saat bermain layang-layang. Jika dilihat dari filosofi budaya layangan atau melayangan di Bali. “Kalau kita perhatikan pengertian dari unsur-unsur yang terdapat dalam Rare Angon tersebut ada istilah Cetakeng Tawang atau Cetake ing Tawang merupakan atau diistilahkan dengan lembaran atau bentangan. Dimana layang-layang tersebut terdiri dari lembaran dan bentangan sebagai dasar. Kemudian layang-layang atau layangan berarti daun atau lembaran. Kemudian berubah menjadi ang-layang berarti mengapung. Kemudian menjadi pang-layang berarti melayang di udara. Lelayangan berarti rupa layang juga berarti terbang atau melayang. Layangan berarti layang-layang, berdasarkan Kamus Bahasa Bali. Kemudian layang-layang atau bayang-bayang ini berkaitan dengan acara Butha Yadnya. Kulit ayam atau hewan lainnya yang dikuliti disebut layang-layang. Layang-layang adalah sebuah bentuk benda, berbentuk lembaran yang bisa diterbangkan sebagai simbol jiwa, semangat dan bayang-bayang itu sendiri. Layangan identik dengan wayang. Tentang bermain bayang-bayang, kemudian yang dilihat pada sebuah kelir atau rajutan tali. Bermain layang-layang mempunyai pola hampir sama dengan bermain wayang, karena menggunakan bayangan atau layang tersebut”, jelas Adnyana.

Kemudian ada rare merupakan manifestasi Dewa Siwa, makro kosmos atau jiwa mikrokosmos. Angon pengembala yang selalu mengembara sebagai wujud pikiran yang mengembala itu di sini adalah wujud pikiran itu. Angon, pikiran manusia itu mengembala kemana-mana. Jiwanya ada di satu tempat tetapi pikirannya ada di mana-mana. Inilah yang harus digembala oleh Rare Angon, terutama saat melaksanakan upacara-upacara besar, atau saat manusia itu akan bertindak agar tidak semena-mena. Ngon berarti terposona dan langon berarti indah. Rare angon berarti wujud jiwa yang selalu mengawasi pikiran yang mengembara mencari keindahan. “Yang namanya pikiran pasti selalu mencari yang indah-indah, yang baik-baik itu, sehingga perlu di ngon, di angon atau di kendalikan. Rare angon diwujudkan oleh para petani berupa petakut atau lelakut atau orang-orangan yang ada di sawah. Menurut lontar Sundari Gama, Rare Angon atau purusa atau kama petak. Kemudian rare cili atau prakerti atau kama ban”,’ tambah Bawa Adnyana.

Layang-layang Bali mengacu kepada konsep teologi purusa prakerti, Lingga Yoni atau segara dan gunung. Pecukan atau belah ketupat sebagai simbol oparium, sedangkan Kuir perpaduan pecukan dengan buntakan, ditambah ekor yang panjang menjadi layangan jangan. Jangan dengan akhiran an bagaikan tumbuhan merambat. Tapel jangan berupa binatang yang ada di hutan atau berada di gunung. Filosofi penggunaan warna pada layang-layangan di Bali mengacu kepada konsep tri semaya, Brahma, Vishnu dan Ishwara. Brahma merah, selatan, kama bang, sebagai dewa pencipta, simbol ide, imajinasi dan produksi. Dewa Ishwara putih timur, kama petak. Timur terbitnya matahari sebagai pencarahan, sebagai simbol sastra atau pengetahuan dan juga publikasi. “Nah, Siwa sebagai simbol lingga atau kama petak. Dalam tri murti Hindu Bali adalah Dewa Ishwara, penyatuan antara kama bang, merah dengan kama petak, putih, akan menjadi kamu reka berupa kehidupan yang disimbulkan dengan warna hitam Dewa Wishnu”, ungkap penyuluh Agama Hindu Kota Denpasar tersebut.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....