Menggali Nilai Mederasi dalam Tembang "Made Cenik" dari Perspektif Spiritual dan Sosial
- 17 Agt 2024 20:39 WIB
- Denpasar
KBRN Denpasar : Kehidupan beragama di Indonesia dengan keragaman budaya dan kepercayaan yang melimpah tentunya menuntut setiap individu dan komunitas untuk mengembangkan sikap moderasi yang bijaksana. Dimana moderasi beragama sebagai prinsip penting dalam menciptakan harmoni sosial mengajarkan pentingnya keseimbangan dan toleransi dalam praktik keagamaan sehari-hari. Dalam kontek ini, nilai-nilai moderasi dapat ditemukan tidak hanya dalam ajaran agama itu sendiri tapi juga dalam berbagai ekspresi budaya yang mengaruh pada pekembangan sikap budaya tersebut. Salah satu yang bentuk ekspresi budaya yang kaya akan makna dan nilai-nilai spiritual adalah tembang Made Cenik sebuah karya sastra tradisional Bali dimana tembang Made Cenik ini merupakan salah satu jenis tembang atau puisi dalam bahasa Bali yang lumayan sering kita dengar atau kita simak setiap kali dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini mencerminkan ajaran-ajaran filosofi dan spiritual yang mendalam melalui lirik-liriknya. Demikian Ni Luh Komang Indah Sari dari Penyuluh Agama Hindu Kota Denpasar membuka monolog acara Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar, FM 106,4 MHz, Jumat, 16 Agustus 2024.
Tembangan ini tidak hanya menyampaikan pesan-pesan moral tetapi juga menciptakan cepatan antara nilai-nilai tradisional dan praktik moderasi beragama. Sangat penting untuk menggali nilai-nilai moderasi yang terkandung dalam tembang Made Cenik yang dimana dapat mengingat adanya penting atau peranan penting dalam kehidupan masyarakat Bali. Dan bagaimana sih karya sastra ini dapat menawarkan perspektif baru dalam mengatasi tantangan dalam kehidupan beragama modern. Dengan menganalisis tembang ini dari perspektif spiritual dan sosial kita dapat memahami dari dalam bagaimana prinsip-prinsip moderasi dapat tercemahkan dalam kehidupan sehari-hari, serta karya sastra tradisional yang sangat berperan ini bisa membentuk dan mempertahankan nilai-nilai toleransi dan kesimbangan dalam masyarakat yang pluralistik. Pendekatan ini tidak hanya memberikan wawasan tetapi juga memberikan pentingnya moderasi beragama dalam konteks budaya lokal tetapi juga menawarkan pelajaran universal tentang bagaimana menghargai keragaman, sambil menjaga integritas spiritual. “Maka dari itu perlu didukung dengan menggali nilai-nilai moderasi dalam tembang Made Cenik yang dapat memperkaya pemahaman kita tentang hubungan antara budaya agama dan masyarakat dalam konteks global yang semakin kompleks ini’ Kata Indah Sari.
Dari tembang atau lagu Made Cenik ini, kita bisa melihat terdapat nilai filosofis yang terdampak dalam kehidupan sosial pertama, ada masyarakat ibaratkan sebagai Made Cenik, liling montor dibi sanja, artinya si Made Cenik yang terlintas oleh kendaraan saat senja, hal ini dapat dimaknai bahwa pengalaman lirik tersebut mengisahkan Made Cenikyang terlintas dari perkembangan jaman atau dalam artian mayoritas masyarakat Bali sekarang ini hanya bisa diam dan menjadi penonton dari perkembangan jaman, sebagai masyarakat Bali yang hidup di jaman sekarang yang diharapkan tidak hanya menonton saja tapi tetap berkembang ikuti arus jaman, jadi Made Cenik atau cenik artinya kecil apa bila kita selalu menganggap diri kita kecil atau tidak mampu, tidak berdaya, tidak mau membangun diri atau tidak produktif, tidak berpikir positif, maka orang yang menjadi Made Cenik akan tertindas oleh perkembangan jaman atau tertinggal tegerus jaman atau dililig montor, montor Badung ke Gianyar, montor Badung ke Gianyar, artinya ini menyeratkan makna jika episendrum perkembangan besar pariwisata Bali terjadi di kabupaten Badung dan gianyar, ini yang sering rame-rame mengembangkan sektor pariwisata, sektor ekonomi yang sangat meningkat di jaman itu, bahkan sampai sekarang pun pesat masih berkembang luar biasa, makanya ada syair montor Badung ke Gianyar yang membahas fakta kita temukan di jaman sekarang mobil-mobil pariwisata datang kebanyakan dari arah Badung menuju Gianyar sebagai daerah tujuan pariwisata, sehingga orang Bali dituntut pintar untuk menyikapi perkembangan ini. Dengan cara apa? Tidak ada lain adalah dengan membekali diri dengan berbagai kompetensi, bisa melambangkan perjalanan fisik dan perjalanan hidup seorang dalam konteks moderasi beragama.
“Hal ini bisa diatakan sebagai perjalanan menuju kesimbangan pemahaman dan peningkatan kemampuan kompetensi yang lebih meningkat dalam kehidupan sehari-hari. Bali memiliki potensi yang didambakan oleh orang luar, dimana ada lirik gedebege muat batu, batu Cina. Gedebege artinya gerobak, dalam hal ini adalah pulau Bali atau Pulau Dewata yang memuat batu Cina yang identik dengan sebuah batu yang sangat mulia, sangat didambakan, sangat berlian, sangat bagus, orang akan melirik orang akan melihat bagaimana Pulau Dewata ini yang dicari-cari, bahkan banyak macam negara untuk dating berbondong-bondong ke Bali” kata Indah.
Hal ini menyiratkan bahwa Bali memiliki potensi yang sangat luar biasa di luar sana, bahkan orang lain atau orang asing berusaha untuk mengambil keuntungan yang ada di Bali, yang dimana potensi Bali itu bisa ditingkatkan untuk di lokal di Bali, tapi malah diambil alih oleh orang asing. Maka kita menjaga kemampuan atau potensi kita agar tidak terjerus dari tantangan atau kemampuan orang Bali, agar tidak diambil alih orang asing. “Adanya investor asing yang bermula menguasai Bali, bagaimana terdapat lirik bais lantang cunguh barak,yang artinya makna orang Bali orang-orang asing yang mulai dan telah menguasai potensi yang dimiliki oleh Bali, ini dibuktikan oleh investor luar daerah atau asing yang menguasai Bali. Bais lantang identik dengan alat untuk menangani beban, yang menunjukkan pentingnya kesiapan dan alat yang tepat untuk menghadapi kesulitan dalam modulasi ini mengajarkan kita pentingnya kesimbangan antara beban dan kemampuan untuk menghadapinya dengan bijaksana.
Masih ada masyarakat yang lebih suka melakukan hal-hal yang tidak produktif seperti mabuk-mabukan, makanya ada liriknya mengumbar-umbar I Cogar, mengumbar-umbar I Cogar itu artinya makna bahwa orang Bali seperti halnya I Cogar yang pekerjanya luntang lantung, tidak jelas sebagai akibat dari tidak menyadari diri sendiri tidak mau mengembangkan segala potensi. Hal ini mengingkatkan kita semua kalau dalam kehidupan sekarang masih ada atau masyarakat lebih suka melakukan seperti mabuk-mabukan, minum-minum dan sebagainya, dipengaruhi oleh sifat dalam konsep Sad Ripu yakni, nam musuh dalam diri manusia yang perlu dikendalikan melalui kesadaran manusia itu sendiri, selain itu lirik ini juga menunjukkan bahwa setiap individu memiliki cacatan atau kekurangan yang harus dihadapi.
“Dalam konteks moderasi beragama, ini mengajarkan penerimaan diri, penyadaran diri dan pengertian bahwa kekurangan adalah bagian kemanusiaan yang harus diterima dan diatasi dengan cara apa melakukan yang peningkatan kompetensi dan kemampuan seperti itu ke enam kita hanya sebagai pekerja atau suruhan di perusahaan atau tempat perkantoran yang didirikan oleh orang luar, yang dimana liriknya I Cogar metulupan, artinya menyiratkan bahwa makna atau akibat dikuasanya potensi-potensi Bali dari pihak luar, tetapi kita hanya sebagai pekerja suruhan di perusahaan yang mereka dirikan, masih ada masyarakat yang menjalani kehidupan seperti jaman dulu kala, yaitu berburu ke hutan atau metulupan. Ini sebagai bentuk ketidak kemampuan untuk bersaing di jaman sekarang, di jaman yang serba modern ini, mau gak mau harus belajar. Kalau tidak mengembangkan potensi dalam diri, akan meninggalkan yang namanya kemampuan-kemampuan diri, bisa beradaptasi dengan dunia yang serba modern ini.” Jelas Penyuluh Agama Hindu Kota Denpasar itu.
Yang namanya bekerja keras tidak didasari oleh kiringan yang tulus sebagaimana di lirik ini ada jngkat jongkok, menyaru mengintip jangkrik. Jangkak jongkok itu artinya dalam berburu, ada aktivitas jongkok, jangkak jongkok yang artinya berusaha keras mencari jangkrik, namun hanya berkedok belaka, dimana menyiratkan bahwa masyarakat atau orang-orang pekerja, namun tidak berdasarkan keinginan yang tulus, ini yang dilakukan oleh orang-orang masyarakat lain melihat sebagai pekerja keras padahal nyatanya tidak begitu, selain itu aktivitas sehari-hari juga mengambarkan kehidupan tradisional dan sederhana, dimana di jaman lampau mungkin masyarakat hanya melakukan aktivitas sederhana saja, tidak seperti jaman sekarang yang segala jaman pesat, harus mengikuti jaman, harus bekerja keras, harus mengejar, menipu uang agar bisa beli ini, beli itu.
“Jadi pekerjaan itu ibaratnya hanya mengejar penghasilan saja, tetapi tidak berdasarkan keinginan yang tulus, kenyamanan yang di dalam hati, jadi itu yang terjadi di era saat ini makanya perlu adanya kesimbangan dalam kehidupan sepetual dan material, dimana dalam moderasi beragama menunjukkan perlunya menjaga hubungan harmonis dalam tradisi dan kehidupan sehari-hari, kesimbangan ini yang perlu kita kuasai, kita harus kendalikan agar tidak pengaruh yang namanya angkat jongkok” ungkap Indah Sari.
Terlalu sering mengayalkan sesuatu, tetapi tidak melakukan tindakan yang nyata ini yang sering terjadi di lirik Jangkrik Kawi Nilotama, artinya perempuan yang cantik dan Nilotama tunjung biru sebagai bunga yang cantik dan semua ingin memilikinya ini yang menganggap bahwa masyarakat Bali terlihat mencari jangkrik, padahal dia tidak mengayalkan sesuatu yang tidak mungkin didapatkan dengan cara yang mudah dia mengayalkan ingin memiliki ini, contohnya mobil, rumah bagus, istri cantik dan harta yang melimpah itu hanya sebuah kayalan, tidak nyata. “Hanya saja hidupnya penuh kayalan, itu yang perlu disadari dihindari dan dikendalikan, bahwa hidup yang real ini atau nyata ini hanya segedarnya adalah aksi nyata, lakukan dan laksanakan” tegas Indah Sari.
Memberbesih pikiran jiwa dan raga dimana tunjung biru dalam liryk margi iratu mesiram ini, artinya untuk mencapai tunjung biru atau hal yang diinginkan yaitu dengan cara membersihkan diri secara pikiran jiwa dan raga. Masyarakat diminta semakin sadar akan kekurangan dan kelemahan diri setelah mengajak pergi mesiram atau membersihkan diri masing-masing secara jasmani dan rohani, dalam moderasi ini mengajarkan tentang pembersihan dan pembaruan sebagai bagian dari jaga kesimbangan spiritual dan sosial. "Jangan lupa untuk saling mengingatkan satu sama lain, mesiram saling nengokin mesiram saling nengokin artinya ketika kita sedang membersihkan diri atau menyadarkan diri tidak lupa juga untuk saling mengingatkan satu sama lain, jika ada masyarakat yang belum mampu membersihkan diri maka harus diingatkan untuk dibantu supaya tidak terjatuh ke lubang penderitaan" ungkap Indah.
Membersihkan disini bukan berarti membersihkan dengan cara mandi, tapi menyucikan diri kita mengendalikan pikiran kita, ego kita untuk bisa mengingat bahwa melihat masyarakat atau kemampuan kita untuk tidak terjatuh dari penderitaan. Jangan melakukan berbagai cara untuk memenuhi ambisi, seperti liriknya, tepuk api dong ceburin yang dimana maknanya memenuhi ambisi dengan menghilangkan jati diri, misalnya memenuhi ambisi dengan cara menjual tanah luhur yang berujung pada kemusnahan. Jangan sampai menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan keinginan diri atau orang lain, atau mendapatkan apapun sesuai dengan tujuannya atau ambisinya, serta menghilangkan jadi diri sebagai penerusan luhur. Konteks ini dalam moderasi beragama menunjukkan perlunya tindakan yang bijaksana untuk menyelesaikan masalah atau konflik secara efektif dan damai perlu adanya komunikasi antar keluarga saudara, dan perlu adanya pertimbangan jangan mudah untuk menengarkan satu pihak. Mampu menerima apa yang disampaikan itu perlu ditelusuri lagi, dianalisis lagi, baru kita bisa mengambil keputusan secara bijaksana.
"Mungkin bisa sedikit disimpulkan bahwa pemaknaan tembang Made Cenik dalam konteks moderasi beragama tentunya dapat memberikan suatu pencerahan yang dimana, adanya kesimbangan dan kesetaraan. Tembang Made Cenik mengajarkan tentang pentingnya kesimbangan dalam menghadapi tantangan hidup, cara menghadapi beban dan kekurangan dengan cara yang bijaksana mengajarkan sikap moderasi dalam mengelola berbagai aspek kehidupan. Penerimaan dan kesadaran lirik ini menyebutkan kekurangan atau cacatan atau yang mengajarkan penerimaan diri dan kesadaran akan kekurangan sebagai bagian dari kemanusiaan. Ini penting dalam moderasi beragama dan sosial dimana penerimaan diri dan orang lain adalah kunci untuk membangun hubungan harmonis. Penghargaan terhadap tradisi dan kebudayaan ada aktivitas sehari-hari yang mencerminkan dalam menunjukkan penghargaan terhadap tradisi terus keempat pembersihan dan pembaruan ini menyiratkan bahwa ritual pembersihan seperti di mesiram, mengambarkan pentingnya proses pembersihan secara spiritual dan sosial ini sejalan dengan prinsip moderasi dimana pembersihan ini dapat membantu kesimbangan dan keharmonisan. Tindakan yang bijaksana tindakan ini untuk mengatasi masalah dimana penting pendekatan yang bijaksana dalam menyelesaikan konflik, moderasi beragama dan sosial mengajarkan tentang menyelesaikan masalah dengan cara yang damai dan efektif secara keseluruhan Tembang Made Cenik menawarkan wawasan tentang bagaimana prinsip moderasi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari baik dari perspektif spiritual maupun sosial dengan menekankan pentingnya kesimbangan penerimaan penghargaan terhadap tradisi pembersihan dan tindakan yang bijaksana," Tutup Penyuluh Agama Hindu tersebut.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....