Pangkas Praktik Tengkulak dengan Digitalisasi
- 16 Agt 2024 10:39 WIB
- Denpasar
KBRN, Denpasar : Sektor pertanian di Indonesia menghadapi sejumlah problematika. Salah satu yang krusial adalah masih maraknya praktik tengkulak.
Kondisi tersebut diakui Ketua Kelompok Subak Batur Abian Cempaka bernama Nyoman Kasim. Kasim menyampaikan, anggotanya terpaksa berurusan dengan tengkulak.
“Karena begini, kita itu kan selaku petani, istilahnya panennya setahun, kebutuhan sehari-hari kita pinjam, dengan tengkulak dengan bunga tiga persen. Habis itu kopi kita diambil lebih murah,” ungkapnya kepada rri.co.id, Kamis (15/8/2024).
Akademisi Fakultas Pertanian Universitas Warmadewa, Dr. I Nengah Muliartha di tempat terpisah mengamini kondisi tersebut. Dikatakan, tengkulak adalah momok bagi petani.
“Harus diakui hingga saat ini keberadaan tengkulak masih menjadi masalah yang menghantui petani. Ini permasalahan yang signifikan bagi petani. Permasalahannya ketergantungan petani ini terhadap tengkulak juga harus diakui. Bahwa banyak petani, terutama yang memiliki lahan terbatas atau modal yang minim sangat bergantung pada tengkulak,” kata Muliartha.
Muliartha mengungkapkan, berbagai kondisi yang menyebabkan petani terjerat tengkulak. Di antara akibat keterbatasan lahan dan modal yang dimiliki petani.
“Mereka tidak memiliki pilihan lain selain menjual hasil panennya kepada tengkulak, karena keterbatasan akses ke pasar yang lebih luas,” sebutnya.
Muliartha menyampaikan, beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk memotong rantai tengkulak. Salah satunya dengan pemanfaatan platfom digital.
“Platform digital ini memiliki potensi, ingat potensi besar untuk memangkas, bahkan menghilangkan praktik tengkulak yang selama ini telah merugikan petani. Sebenarnya dengan memanfaatkan teknologi digital, petani dapat terhubung langsung dengan konsumen atau pelaku bisnis lainnya. Tanpa harus melalui perantara,” tegasnya.
“Beberapa platform digital sebenarnya dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan tengkulak. Di mana dengan platform digital sebenarnya memungkinkan petani untuk melihat harga pasar secara realtime,” lanjut Muliartha.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....