Pisang dalam Ritual Agama Hindu
- 30 Jul 2024 07:35 WIB
- Denpasar
KBRN Denpasar : Pisang itu dalam istilah Bahasa Bali kita kenal dengan sebutan biyu. Dalam sastra-sastra Agama Hindu ada yang bisa menyebutkan tentang Pisang. Begitu juga pada bebantenan, di plutuk-plutuk banyak menyebutkan tentang pisang. Intinya, di semua banten bahkan berisi pisang. Hal tersebut terungkap dalam dialog Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar (Senin, 29 Juli 2024) yang dibawakan oleh I Nyoman Dayuh dan kawan-kawan, salah seorang penyuluh Agama Hindu dari Kementrian Agama Kota Denpasar.
Tugus Bawa salah satu dari nara sumber yang hadir menyebutkan, dalam Bhagawadgita, Bab 9, sloka 26 disebutkan : Patram, puspam, phalam toyam yo me bhaktya paryacchati tad aham bhaktya upahrtam asnami prayatatmanah. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, artinya adalah : Barangsiapa mempersembahkan kepadaKu dengan dedikasi, sehelai daun, sekuntum bunga, ataupun air, Ku terima persembahan penuh kasih itu sebagai persembahan dari hati yang tulus. Inilah yang menjadi dasar, Umat Hindu, ketika membuat upakara, selalu memakai dasar buah atau who-wohan dalam Bahasa Bali, salah satunya adalah pisang. Apapun yang dikemas dalam bentuk banten pasti selalu menggunakan pisang.
Sementara Jero Mangku Candra Narayama mengatakan, di Bali dalam praktek-praktek keagamaan, ada istilah nanding pisang dalam bentuk gebogan. Pada pelaksanaan upacara secara umum di masyarakat, ada pisang yang digunakan dalam upacara dewa yadnya dan pitra yadnya terutama upacara ngaben, itu ada perbedaannya. “Misalnya ketika upacara Dewa Yadnya, maka pisang yang digunakan pada umumnya adalah biu susu atau biu emas. Selanjutnya di pitra yadnya atau ngaben, yang umum dipergunaan saat upacara nyiramang layon atau pembersihan, meringkes, diusahakan menggunakan pisang kayu atau biu kayu, dan ini pun jumlahnya ganjil, kadang jumlahnya 33, kadang 27. Ini sesuai dengan penguripnya. Dengan pengharapan bahwa orang yang meniangal, mendapatkan pikiran yang lebih baik dari kayunnya. Dari pisang itu sendiri memiliki filosofi yang sangat tinggi, karena itu diusahakan idealnya menggunakan pisang kayu untu pitra yadnya dan pisang susu atau pisang emas untuk dewa yadnyanya” ungkap Jero Mangku Candra.
Pisang ini ada pada struktur-struktur upacara di Bali, seperti pada Banten Suci, di Banten Pujiwali, ada pisang emas. Pada Banten Pengambian. Tapi di tempat lainnya seperti gebogan, boleh menggunakan pisang kayu, pisang ketip, pisang gadang, atau pisang lainya.Pada Banten tetap harus ada pisang. Karena pisang itu dibanding dengan buah-buah yang lain itu kan harus dan memang wajib ada. Ada satu jenis pisang yang menjadi pertanyaan di kalangan umat Hindu Bali, yakni pisang atau biu Gedang Saba.
Menurut Ade Meila yang kebetulan dari daerah Negara. Kalau membahas tentang pisang atau biu Gedang Saba, kalau kita mau sembahyang ke Pura Dalem atau ke Merajapati, tidak boleh menggunakan jenis pisang ini. Selain pisang Geadang Saba, baru bisa digunakan. Kenapa? “Karena biu Gedang Saba itu biasanya kalau di sana itu melambangkan susunya Dewi Durga. Makanya itu tidak boleh” ujar Ade Meila.
Mengapa pisang menjadi keharusan? Hal tersebut dalam Agama Hindu terdapat dalam sebuah mitos atau mitologi dalam Siwa Purana. Diceritakan Prajapati Daksa yang notabene adalah ayah dari Dewi Uma melaksanakan upacara yadnya. Dewa Siwa tidak hadir pada upacara tersebut. Namun, Dewi Uma bersedia menghadiri acaranya. Sebagai bentuk kesetiaan kepada sang ayah . Dewi Uma pun akhirnya membakar dirinya. Sekujur tubuhnya lenyap, berubah menjadi abu. Singkat cerita, setelah Dewa Siwa melihat istrinya menjadi abu, abu itu pun kemudian diangkat ke Kailas. Rupanya di Kailas itu sebagian organ tubuh beliau yang sudah menjadi abu itu jatuh ke bumi, dan tercecer. Dari ceceran itu, tumbuhlah pohon pisang. Karena pada saat itu Dewi Uma sebagai saksi, sehingga buah pisang itu ketika ada di dalam sebuah banten itu, sehingga menjadilah simbol saksi dalam setiap upacara.
Dayuh menambahkan, Tentang mitologi dalam Siwa Purana, mengenai maturan pisang, ini terkait dengan Ajaran Buwana Agung dan Buwana Alit, proses penciptaan alam semesta itu. Bukan hanmya menjadi pisang saja, abu-abu yang tercecer tersebut menjadi sarwa tumuuh, atau tumbuh-tumbuhan yang bermanfaat dalam kehidupan manusia. (I Putu Adi Sutirta)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....