Rerahinan Buda Cemeng Merakih, Siapa Yang di Puja?

  • 31 Mei 2024 15:28 WIB
  •  Denpasar

KBRN, Denpasar: Masyarakat Hindu Bali merayakan berbagai hari suci, sesuai dengan penanggalan kalender Bali. Banyak yang mempertanyakan, mengapa masyarakat Hindu di Pulau Dewata memuja berbagai nama Dewa disetiap rerahinan suci.


Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementrian Agama Kota Denpasar, Dr. I Nyoman Arya, S.Ag., M.Pd.H menuturkan, diantara banyak sebutan Tuhan, sebenarnya Tuhan tunggal atau esa. “Dalam Lontar Jnana Sidantha disebutkan seperti itu, bahwa Tuhan itu satu, Sang Hyang Widhi. Masyarakat perlu memahami penafsiran terhadap Tuhan ini. Sama seperti ketika upacara, tidak terlepas dari mantra yang disebutkan dalam sloka, sruti, sesontengan. Inti pokok dari pembahasan ini, siapa yang dipuja tidak selamanya disebutkan dengan Bahasa Bali.” Jelasnya.


Lalu siapakah yang dipuja dalam Buda Cemeng Merakih? Buda Cemeng Merakih dikenal juga sebagai Buda Wage Merakih. Hari suci ini diperingati setiap enam bulan sekali atau 210 hari sekali menurut kalender Bali. Menurut Dr. Nyoman Arya, Buda Wage Merakih merupakan pertemuan Pancawara, Saptawara dan Wuku. Penekanannya ada pada Wuku Merakih.


“ Lalu apa yang dapat kita maknai dari perayaan hari suci ini? Pada Buda Cemeng Merakih, umat sedharma dapat menggunakan momentum ini untuk menguatkan pikiran kita untuk menghilangkan mala pada pikiran. Karena pikiran sebagai pusat dari indria. Dalam sarasamuscaya disebutkan bahwa pikiran sebenarnya bisa kita pusatkan karena kita akan memuja manik galih. Galih artinya kecermelangan, manik artinya permata. Permata dalam hati dan pikiran bisa kita cerahkan dan lebih asah lagi seperti permata.” Lanjutnya dalam acara Mutiara Pagi Pro 1 Denpasar.


Prosesi pelaksanaan Buda Cemeng Merakih ini juga berkaitan erat dengan hari kelahiran manusia. Ketika seseorang lahir pada Buda Cemeng Merakih, disebutkan dalam Lontar sundarigama bahwa hari ini akan melahirkan manusia pemberani dan sesuai dengan kehidupannya. Memiliki potensi menyenangkan dan memperoleh kedudukan kehormatan.


“Perilakunya penuh dengan wiweka, tidak grasa grusu. Pada saat ini pula, Sang Hyang Manik Galih dengan kekuatan Dewi Sri dan Dewi Laksmi, menganugerahkan kemakmuran kepada umatnya. Maka dari itu kita tidak dapat kesampingkan Buda Cemeng ini. Dewi Sri berperan memberikan kesuburan dalam kehidupan kita. Apa yang kita lakoni akan memperoleh kesejahteraan dan kesuburan, dalam arti kehidupan kita sebagai bhuana alit dan bhuana agung akan bertumbuh dengan baik”, ujar Dr. Nyoman.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....