Makna Ulap-ulap pada proses Pemelaspasan Bangunan
- 23 Mei 2024 18:01 WIB
- Denpasar
KBRN, Denpasar : Hunian maupun bangunan suci di Bali seringkali terpasang kain putih yang tergantung diatas pintu atau ventilasi. Ulap-ulap bagi masyarakat di Bali, dikenal dengan secarik kain berwarna putih yang dipasang pada sebuah bangunan berisikan gambar atau lukisan padma, padma astadala, serta Sang Hyang Acintya. Bahkan pada ulap-ulap, berisikan pula rerajahan atau aksara yang menyesuaikan dengan peruntukan ulap-ulap tersebut.
“ulap-ulap berasal dari Bahasa bali yaitu kata ulap, yaitu berarti silau. Orang silau karena cahaya yang cemerlang. Dalam Bahasa bali ulap-ulap juga berarti memanggil-manggil atau kaukin aji lima. Sehingga dapat diartikan ulap-ulap di fungsikan untuk penolak bala atau segala bahaya. Ulap-ulap memiliki ukuran 20x30 cm. Namun terkadang ada juga ulap-ulap berukuran besar”, ucap I Wayan Artana, S.Ag., M.Fil.H, Penyuluh agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kota Denpasar dalam acara Mutiara Pagi di Pro 1 Denpasar.
Wayan Artana menyebutkan bahwa ulap-ulap biasanya menggunakan kain putih, dikarenakan putih merupakan dasar kesucian, tepatnya yang beristana pada warna putih adalah Sang Hyang Iswara. Putih merupakan manifestasi dari Dewa Siwa. Sementara itu, tinta hitam yang digunakan untuk menggambar rerajahan maupun aksara pada kain putih merupakan simbol dari Dewa Wisnu, yaitu memberikan kekuatan.
“Rerajahan pada ulap-ulap ini fungsinya untuk memberikan “urip” atau nafas kehidupan pada elemen-elemen yang bergabung sebuah bangunan,” tuturnya.
Ulap-ulap dapat digambar dan dirajah oleh siapapun yang mampu. Dalam pembuatannya, penulisan aksara ulap-ulap tidak dapat dirubah dan dilakukan sembarangan. Untuk kebutuhan ritual atau upacara, biasanya ulap-ulap di buat oleh seseorang yang dianggap mumpuni dan telah menjalani pawintenan.
“ Biasanya yang dapat menggambar lukisan maupun menulis aksara pada ulap-ulap adalah pemangku, sangging, dalang, sulinggih, maupun umat yang sudah melalui pewintenan untuk menghindari kesalahan penulisan aksara. Hal ini bertujuan untuk menjaga kebersihan dan kesucian diri serta ulap-ulap yang akan digunakan ritual mlaspas bangunan,” imbuhnya.
Ditambahkan, tidak dibenarkan aksara dilakukan dengan proses penyablonan dan hanya gambarnya saja yang diperbolehkan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....