Kesultanan Pontianak dalam Bingkai Ketatanegaraan & Budaya Indonesia [IV]

  • 09 Okt 2023 21:29 WIB
  •  Pontianak

Oleh Tengku Mulia Dilaga Turiman Fachturahman Nur


Setelah Sultan Hamid II wafat pada 30 Maret 1978, terjadi kekosongan jabatan sultan di keluarga Kesultanan Pontianak. Kekosongan jabatan itu bahkan berlangsung selama 25 tahun. Namun pada 15 Januari 2004, pihak bangsawan Istana Kadriyah mengangkat Syarif Abubakar Alkadrie sebagai Sultan Pontianak ke VIII. Jauh sebelumnya, tepatnya pada 29 Januari 2001 seorang bangsawan senior, Syarifah Khadijah Alkadrie binti Sultan Syarif Muhammad Alkadrie bin Sultan Syarif Yusuf Alkadrie, mengukuhkan Kerabat Muda Istana Kadriyah Kesultanan Pontianak. Kekerabatan ini bertujuan menjaga segala tradisi dan nilai budaya Melayu Pontianak, termasuk menghidupkan dan melestarikannya.

Kesultanan Pontianak akan menggelar ritual sakral yaitu prosesi penabalan atau penobatan Sultan Pontianak IX, Syarif Melvin Alkadrie yang menggantikan almarhum ayahandanya Sultan Syarif Abubakar Alkadrie. Ritual sakral tersebut akan dilangsungkan selama tiga hari, dimulai dari tanggal 14-16 Juli 2017.

Perpeskektif dimensi Budaya Pontianak adalah kota multikultur yang memiliki bentangan sungai terpanjang di Indonesia yang bernama Kapuas. Kemultikulturan Pontianak itu terlihat dari banyaknya suku, baik pendatang maupun asli, yang berbaur harmonis dan memberi warna indah kota ini. Ada dua peninggalan bersejarah di kota ini yang memiliki latar beda, yaitu Istana Kadriyah beserta Masjid Jami’ Sultan Abdurrahman, dan Tugu Khatulistiwa.

Istana Kadriah berada di Kampung Beting, Kelurahan Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat. Letaknya tidak jauh dari pusat Kota Pontianak, dan dapat dijangkau melalui jalur sungai dan darat. Istana Kadriah di sebelah kiri jalan dan Masjid Jami’ Sultan Abdurrahman di sebelah kanan. Di sekitar kawasan peninggalan Kesultanan Pontianak ini adalah pemukiman yang cukup padat. Dengan rumah-rumah panggung yang tersebar di dataran banjir Sungai Kapuas.

Istana Kesultanan untuk Indonesia, Bagian pertama mengenai awal berdirinya Kesultanan Pontianak, dan bagian kedua tentang masa berakhirnya Kesultanan Pontianak saat menyatakan bergabung dengan NKRI. Signifikansi sejarah ini akan menjadi “bahan” untuk memupuk identitas, tidak hanya bagi Pontianak tetapi bagi NKRI.

Istana Kadriah sebagai saksi sejarah menjadi memori kolektif masyarakat Kota Pontianak. Bahkan di akhir cerita sejarah tersebut jelas dapat dibaca tentang signifikansi ‘Pontianak’ tidak hanya bagi ‘Pontianak’, tetapi bagi ‘Indonesia’. Jadi, jelas bahwa bangunan bersejarah dapat mengingatkan masyarakat terhadap kejadian masa lalu yang seoah-olah bagian darinya. Masyarakat menyadari bahwa bangunan bersejarah itu adalah bukti dari rentetan cerita yang akan membentuk identitas Kepontianakan. Bahkan jika kita perhatikan bagian akhir dari cerita sejarah Pontianak, tidak menutup kemungkinan akan membentuk identitas keindonesiaan.

Tradisi Saprahan masih dipakai di tengah masyarakat kesultanan, Saprahan adalah tradisi makan bersama di dalam tarup. Setiap orang makan dalam kelompok-kelompok kecil menghadap hidangan. Tradisi ini menjadi salah satu ciri yang dipakai untuk mengidentifikasi diri sebagai orang Melayu Sambas. Adat Saprahan adalah adat makan bersama duduk di lantai yang dilakukan oleh masyarakat Melayu Kota Pontianak dalam acara pernikahan, khitanan, dan acara syukuran lainnya.

Dalam acara saprahan, semua hidangan makanan disusun secara teratur di atas kain saprah, dengan tujuan agar proses makan bersama dapat dilaksanakan secara tertib dan tali silaturahmi dapat terjalin dengan baik. Awalnya adat makan saprahan hanya berlaku di lingkungan Kesultanan Pontianak, akan tetapi adat saprahan ini terus berkembang hingga dilaksanakan di kalangan masyarakat Melayu Kota Pontianak.

Ruang lingkup adat Saprahan, yaitu:

  1. Peralatan dan perlengkapan adat saprahan: kain saprahan, piring makan, kobokan (tempat air cuci tangan) beserta serbet, mangkok nasi, mangkok lauk pauk, sendok nasi dan lauk, gelas minum.
  2. Menu utama adat saprahan: nasi putih/nasi kebuli, semur daging, sayur dalcah, sayur paceri nanas/terong, selada, acar telur, sambal bawang, air serbat, kue tradisional.
  3. Tata cara penyajian hidangan adat saprahan: menghampar kain dan menyajikan menu dengan urutan piring dan kobokan beserta serbet, nasi, lauk pauk, air minum, air serbat dan kue tradisional.

Ketentuan menyajikan hidangan saprahan: petugas yang membawa dan meletakan peralatan harus berpakaian rapi, diutamakan menggunakan pakaian adat Melayu (laki-laki, telok belanga dan perempuan, baju kurung). Petugas pembawa peralatan adat saprahan berjalan, duduk dan bergerak mundur maju dengan tertib dan tidak diperkenankan membelakangi tamu yang hadir.

Setelah semua hidangan disajikan dengan lengkap, tamu dipersilahkan makan bersama. Selesai makan bersama, maka semua peralatan dan perlengkapan diangkat semua. Selanjutnya air serbat dan kue tradisional khas Kota Pontianak diberikan kepada semua tamu yang hadir.

Sebagai penutup adat Saprahan ini dilakukan pembacaan shalawat yang dipimpin oleh seseorang yang dituakan didalam majelis adat Saprahan tersebut. Dengan demikian berakhirlah adat Saprahan Kota Pontianak. Tradisi adat Saprahan mengandung makna duduk sama rendah berdiri sama tinggi sebagai wujud kebersamaan, keramahtamahan, kesetiakawanan, serta persaudaraan.

Tengku Mulia Dilaga Turiman Fachturahman Nur

Kembali bagian I

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....