Tradisi Gulung Rokok Bagi Suku Moi
- 28 Okt 2025 11:04 WIB
- Sorong
KBRN, Sorong: Indonesia kaya akan tradisi dan kebudayaan, yang patut dilestarikan. Seiring perkembangan zaman, banyak tradisi yang mulai pudar. Padahal tradisi di setiap suku perlu dijaga sebagai warisan para leluhur. Salah satu suku besar di Papua barat Daya adalah suku Moi. Dalam adat suku Moi saat upacara adat pernikahan ada beberapa tahapan,salah satunya gulung rokok. Diantara banyaknya anak papua yang sudah jarang sekali melaksanakan upacara adat, dialah Friana Patri Mei Osok gadis asli Moi yang penuh dengan prestasi,cerdas bahkan pernah mengenyam pendidikan di luar negeri,namun tetap ingin melestarikan budayanya sendiri, lewat upacara kawin adat yang belum lama ini di laksanakan. Lewat gawai dalam program Tradisi Budaya papua di Programa 1 Sorong, Mey yang biasa di sapa sehari hari berkisah tentang tahapan tradisi kawin adatnya. Dimana ia di lamar kekasihnya Edward Maniagasi.
Salah satu tahapan dalam kawin adat yang menarik adalah gulung rokok,dimana tetua adat yang memimpin jalannya ritual adat mengawali dengan membaca doa lalu menggulung rokok yang terbuat dari pelepah daun nipah dan serbuknya dari anggur kupu. Kemudian rokok di bakar dengan menggunakan batu dan bambu kemudian dihisap dan di hembuskan lantas di teruskan kepada ibu mempelai perempuan di lanjutkan dihisap kepada mempelai perempuan,kemudian kepada pasangan mempelai laki laki an dilanjutkan kepada ipar perempuan. dimana sebagai pertanda bahwa dalam tradisi papua terkhusus suku Moi perempuan sangat dihargai.

Gulung rokok itu dalam tradisi Moi sebuah simbol ikatan dan perjanjian adat.Dan hembusan asap rokok merupakan nafas dari Tuhan yang di hembuskan kepada seorang ibu . Meskipun ada satu lagi tradisi dalam tahapannya adalah gulung papeda atau sagu. Mengingat air yang digunakan tidak sembarang di ambil.
"Iya,jadi sebelum gulung rokok itu ada juga gulung papeda, air yang di gunakan harus mata air sesuai marga,misalnya saya marga Osok,mata air yang harus kami ambil untuk buat papedanya itu yang ada di keret marga,misal osok berarti Abahinso. Dan kalau di sini agak susah cuma ada di sekitar Klasaman, atau di daerah kabupaten Sorong. cuma sekitar 3 lokasi,cuma karena acara sudah mepet jadi tidak di laksanakan" kata Mey.
Selain itu ada,momen penyerahan noken atau tas khas dari Papua berjaring yang diserahkan pihak mempelai laki laki kepada mempelai perempuan,yang bermakna seorang laki laki akan memimpin rumah tangga dan perempuan akan selalu ikut ke honainya (rumah tangga). Diakhir obrolan Mey berkata bahwa orang papua identik dengan rambut keriting,kulit hitam,tapi jangan sampai tidak tahu menjaga tradisi leluhur lewat budaya,yang harus tetap dilestarikan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....