Sejarah dan Makna Hari Raya Waisak

  • 12 Mei 2025 07:39 WIB
  •  Denpasar

KBRN Denpasar : Hari Raya Waisak adalah Hari Raya umat Buddha. Bagi umat Buddha, hari ini bukan sekadar hari libur, tapi hari suci penuh makna yang memperingati tiga peristiwa agung dalam kehidupan Sang Buddha. Hari Raya Waisak memperingati tiga peristiwa suci dalam kehidupan Siddharta Gautama, dengan makna mendalam tentang pencerahan, refleksi diri, dan pengamalan ajaran Dharma.

Menurut Hasnur Irwansyah dalam Upacara Waisak di Candi Muara Takus (Studi terhadap Komunitas Buddha dalam Melaksanakan Upacara Waisak), umat Buddha memiliki beberapa hari raya seperti Magha Puja (Hari Magha), Visaka Puja (Hari Waisak), Ashada Puja (Hari Asadha), dan Khatina Puja (Hari Kathina).

Namun, di Indonesia, hanya Hari Raya Waisak yang ditetapkan sebagai hari libur nasional melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1983, dan mulai diberlakukan sejak Waisak 2527 atau 27 Mei 1983.

Dilansir dari situs resmi Kementerian Agama Republik Indonesia, Hari Raya Waisak memperingati tiga momen penting sekaligus, yang dikenal sebagai Trisuci Waisak yaitu:

-Kelahiran Siddharta Gautama di Taman Lumbini tahun 623 SM.

-Pencapaian penerangan sempurna oleh Petapa Gotama di bawah pohon Bodhi pada tahun 588 SM.

-Wafatnya Buddha Gotama (Parinibbana) di Kusinara pada usia 80 tahun.

Tiga peristiwa besar ini kebetulan terjadi pada hari yang sama dalam kalender Buddhis, yakni pada bulan purnama bulan Vaisakha.

Makna hari raya Waisak adalah refleksi, penghayatan hidup, dan penghormatan terhadap perjalanan spiritual yang luar biasa dari Sang Buddha. Menurut Taram Jimo dalam buku Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti (2021), Waisak adalah momen jeda, saat umat Buddha diajak untuk kembali merenung: tentang penderitaan, tentang kebahagiaan, dan tentang jalan keluar dari keduanya.

Buddha adalah sosok yang tidak hanya mengajarkan Dharma, tapi juga menjalaninya. Dalam ajarannya tertanam prinsip keteladanan: "Yatha vadi tatha kari, yatha kari tatha vadi". Yang berarti Buddha, mengajarkan apa yang telah dilaksanakan dan melaksanakan apa yang diajarkan.

Makna perayaan Waisak bukan semata seremonial, melainkan undangan untuk menelusuri kembali nilai-nilai kebijaksanaan, welas asih, dan kedamaian batin. Ajaran Buddha tetap abadi dan terus menjadi pedoman moral yang membebaskan manusia dari keterikatan duniawi dan penderitaan batin

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....