Pastor Zepto Poli'i: Makna Hari Raya Kamis Putih Bagi Umat Katolik
- 17 Apr 2025 21:56 WIB
- Sorong
KBRN, Teminabuan: Umat Katolik Paroki Santo Albertus Agung di Teminabuan, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat Daya, mengikuti misa Hari Raya Kamis Putih, Kamis (17/4/2025) malam. Misa atau perayaan ekaristi ini dipimpin oleh Pastor Paroki Santo Albertus Agung Teminabuan, Keuskupan Manokwari - Sorong, Pastor Zepto Triffon Poli'i, Pr.
Pastor Zepto Triffon Poli'i, Pr kepada RRI menyampaikan, Hari Raya Paskah bagi umat katolik diawali dengan Kamis Putih. Di mana dalam misa Kamis Putih, ada dua unsur penting yang dilalui. Yakni merayakan perjamuan malam terakhir Yesus bersama para murid-Nya, kemudian Yesus membasuh kaki para murid.

Pastor Paroki Santo Albertus Agung Teminabuan, Pastor Zepto Triffon Poli'i, Pr. (Edis RRI)
"Hari ini gereja katolik merayakan Hari Kamis Putih. Ada dua hal penting yang dikenang dalam liturgi pada perayaan Hari Kamis Putih. Pertama tentang penetapan Sakramen Ekaristi. Ketika Yesus mengadakan perjamuan malam terakhir bersama murid-murid-Nya, Dia menetapkan Sakramen Ekaristi. Inilah tubuh-Ku, inilah darah-Ku. Kemudian hal mendasar kedua dalam perayaan Hari Raya Kamis Putih adalah, Sakramen Imamat, sakramen pelayanan (ministerial). Hal itu ditandai dengan pembasuhan kaki para murid oleh Yesus," jelasnya.
Berkaitan dengan Hari Raya Kamis Putih ini, lanjutnya, seluruh umat katolik diajak untuk tidak takut berkorban, atau harus berani berkorban. Sama seperti Kristus yang berani berkorban dengan memberikan tubuh-Nya, memberikan darah-Nya dan memberikan hidup-Nya bagi semua orang.

Pastor Paroki Santo Albertus Agung Teminabuan, Pastor Zepto Triffon Poli'i, Pr, menyalami para murid usai pembasuhan kaki dalam perayaan ekaristi Hari Raya Kamis Putih. (Edis RRI)
"Kita pun diajak untuk menyadari bahwa, supaya keluarga kita hidup, masyarakat kita hidup, komunitas kita hidup dan persekutuan kita hidup, maka setiap orang harus berani dan rela untuk berkorban. Kristus telah menunjukkan jalan itu. Dia memberikan tubuh-Nya sebagai makanan, serta memberikan darah-Nya sebagai minuman. Ini merupakan suatu pemberian simbolik yang total. Pemberian yang penuh, utuh. Semuanya diberikan, semuanya dikorbankan," ungkapnya.
Sebagai wujud nyata pengorbanan dalam kehidupan berkeluarga, sambung Pastor Zepto, keluarga-keluarga katolik diajak dan dihimbau untuk memiliki sikap rendah hati, memiliki sikap memaafkan, berjiwa kerja keras dan sebagainya.
"Itu semua bagian dari pengorbanan. Kita diajak untuk mencintai, sama seperti Kristus telah mencintai," ujarnya. (Edis RRI)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....